Jumat 21 May 2021 16:05 WIB

Pandemi, Klub-klub Eropa Diperkirakan Merugi Rp 153 Triliun

Klub-klub yang sangat bergantung kehadiran suporter telah terkena dampak pandemi.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin.
Foto: EPA/MARTIAL TREZZINI
Presiden UEFA Aleksander Ceferin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Klub-klub sepak bola Eropa diperkirakan akan kehilangan pendapatan 8,7 miliar euro atau sekitar Rp 153 triliun karena harus berjuang mengatasi dampak keuangan yang hancur akibat pandemi virus corona. Menurut laporan UEFA, studi tahunan mengenai lanskap sepak bola klub Eropa mengungkap proyeksi pendapatan yang hilang.

Pada tahun keuangan 2019/2020 dan 2020/2021 klub-klub merugi 7,2 miliar euro atau sekitar Rp 126 triliun untuk klub papan atas dan 1,5 miliar euro atau sekitar Rp 26 triliun untuk klub tingkat lebih bawah.

"Dalam laporan tahun lalu, saya mengatakan bahwa sepak bola Eropa kuat, bersatu, tangguh, dan siap untuk tantangan baru," kata Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, dikutip dari AFP, Jumat (21/5). "Tapi tidak ada yang bisa meramalkan bahwa kami harus menghadapi tantangan terbesar untuk sepak bola, olahraga, dan masyarakat di zaman modern ini."

Liga nasional dan kompetisi klub UEFA, Liga Champions dan Liga Europa, sebagian besar dimainkan secara tertutup sejak pandemi melanda Eropa pada awal 2020. "Setiap level dan setiap sudut sepak bola profesional mengalami pukulan keras," kata laporan dari badan pengatur sepak bola Eropa itu.

Klub-klub yang sangat bergantung pada kehadiran suporter telah terkena dampak pandemi. Akibat pemangkasan anggaran, belanja transfer klub-klub Eropa pada jendela musim panas tahun lalu anjlok 39 persen. Pengurangan aliran pendapatan telah memaksa UEFA untuk sementara melonggarkan aturan Financial Fair Play (FFP), yang bertujuan memastikan klub tidak membelanjakan lebih dari yang diperoleh.

Namun, Ceferin mengakui perubahan yang lebih permanen mungkin diperlukan pada FFP. Manchester City membatalkan larangan dua musim yang diberlakukan oleh UEFA karena melanggar aturan FFP di Pengadilan Arbitrase Olahraga tahun lalu.

Pada musim pertama larangan itu, City mencapai final Liga Champions untuk pertama kalinya. The Citizens akan menghadapi Chelsea pada 29 Mei.

"Laporan ini dengan jelas menunjukkan bahwa kami sekarang beroperasi dalam realitas keuangan baru, dan menjadi jelas bahwa peraturan Financial Fair Play kami saat ini perlu diadaptasi dan diperbarui," kata Ceferin. "Keberlanjutan finansial akan tetap menjadi tujuan kami, dan UEFA serta sepak bola Eropa akan bekerja sebagai tim untuk melengkapi olahraga kami dengan aturan baru untuk masa depan baru yang cerah."

Pada catatan yang lebih ringan, laporan tersebut menganalisis puluhan ribu pertandingan untuk mendokumentasikan penurunan yang signifikan dalam kemenangan kandang, dari 45 persen sebelum Covid-19 menjadi 42 persen pasca-Covid-19, dan mengidentifikasi tren lain, seperti penurunan mencolok dalam kartu kuning dan merah tim tandang.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement

Rekomendasi

Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement