Monday, 15 Syawwal 1443 / 16 May 2022

Monday, 15 Syawwal 1443 / 16 May 2022

Vitamin D Bantu Lindungi Tubuh dari Infeksi Pernapasan? Ini Catatan Studi

Sabtu 15 Jan 2022 22:15 WIB

Red: Nora Azizah

Studi selama dua tahun meneliti vitamin D yang bisa kurangi risiko terkait Covid-19.

Studi selama dua tahun meneliti vitamin D yang bisa kurangi risiko terkait Covid-19.

Foto: Antara/Moch Asim
Studi selama dua tahun meneliti vitamin D yang bisa kurangi risiko terkait Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, 

Oleh: Meiliza Laveda

Baca Juga

Vitamin D dapat membantu tubuh menyerap kalsium yang meningkatkan kekuatan tulang. Selain itu, vitamin D juga bermanfaat pada fungsi otot, saraf, dan sistem kekebalan tubuh. Banyak ilmuwan mulai memahami bahwa kekurangan vitamin D dan suplemen vitamin D dapat memengaruhi penyakit.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada beberapa bukti bahwa vitamin D dapat membantu melindungi tubuh dari infeksi saluran pernapasan. Selama dua tahun terakhir, para ilmuwan telah meneliti apakah vitamin D dapat mengurangi risiko yang terkait dengan Covid-19. 

Sebuah studi terbaru yang muncul di The American Journal of Clinical Nutrition, menunjukkan adanya kesenjangan antara vitamin D dengan penyakit kardiovaskular dan kanker.

Kanker dan penyakit jantung

Profesor Nutrigenetika dan Nutrigenomik di University of Reading Inggris Vimal Karani menegaskan ada kesenjangan antara penelitian awal dan temuan dari uji klinis terkait vitamin D dan penyakit kardiovaskular. Dia menjelaskan studi epidemiologi besar masa lalu telah menetapkan hubungan antara kekurangan vitamin D dan risiko sifat penyakit kardiovaskular di berbagai kelompok etnis. Ini menunjukkan bahwa suplemen vitamin D dapat menurunkan risiko kardiovaskular.

“Namun, uji klinis belum memberikan bukti yang meyakinkan tentang efek penurunan tekanan darah dari suplementasi vitamin D,” kata Karani.

Menurut dia, mungkin ada berbagai alasan termasuk perbedaan ukuran sampel, durasi suplementasi, dosis suplementasi, usia peserta, lokasi geografis, paparan sinar matahari, dan ukuran hasil. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mereplikasi temuan di beberapa kelompok etnis.

Percobaan Finlandia

Untuk memberikan bukti lebih lanjut tentang hubungan antara vitamin D, penyakit kardiovaskular, dan kanker, para peneliti melakukan uji coba vitamin D Finlandia. Ini berlangsung antara tahun 2012 dan 2018.

“Ketika kami mulai merencanakan percobaan, ada banyak bukti dari studi observasional bahwa kekurangan vitamin D akan dikaitkan dengan hampir semua penyakit kronis utama, seperti penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes tipe 2, dan kematian,” kata Profesor Nutrisi dan Kesehatan Masyarakat di University of Eastern Finland dan Peneliti Utama Dr Jyrki Virtanen.

Virtanen menemukan, kandungan vitamin D yang rendah pada masyarakat Finlandia berkaitan dengan risiko kematian dan gangguan metabolisme glukosa yang lebih tinggi. Namun, studi semacam ini tidak memberikan bukti kausalitas.

“Peningkatan status vitamin D tubuh dengan suplementasi vitamin D mengurangi risiko penyakit. Oleh karena itu, tujuan kami adalah memulai uji coba suplementasi vitamin D jangka panjang di Finlandia, di mana kekurangan vitamin D cukup lazim karena musim dingin yang panjang dan menyelidiki apakah suplementasi vitamin D dapat mengurangi risiko penyakit kronis utama dan kematian,” ujar dia.

Para peneliti melihat data dari 2.495 orang, termasuk peserta laki-laki 60 tahun atau lebih dan peserta perempuan yang pasca menopause dan 65 tahun atau lebih. Para peserta juga tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular atau kanker. Para peserta mengambil plasebo, vitamin D dengan dosis 1.600 unit internasional (IU) setiap hari atau vitamin D dengan dosis 3.200 IU setiap hari.

Salah satu faktor yang memperumit analisis ini adalah para peserta cenderung memiliki tingkat vitamin D yang tinggi pada awal penelitian. Menurut penulis, ini bermula dari penerapan kebijakan fortifikasi makanan dengan vitamin D di Finlandia yang dimulai pada 2003–2011.

“Kemungkinan suplemen vitamin D tidak memberikan manfaat kesehatan yang besar, terutama pada populasi di mana situasi vitamin D sudah baik pada awal percobaan,” ucap Virtanen.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile