Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

10 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Raden Aria Wasangkara Ulama Pendiri Tangerang (II)

Kamis 24 Feb 2022 12:45 WIB

Red: Agung Sasongko

Suasana kosong di tempat wisata religi Kompleks Masjid Kesultanan Banten di Kasemen, Serang, Banten, Ahad (4/7/2021). Pemprov Banten menutup sementara sejumlah objek wisata selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat tanggal 3 - 20 Juli akibat tingginya angka penularan COVID-19 yang terjadi di hampir semua kabupaten/kota kecuali di Kabupaten Pandeglang.

Suasana kosong di tempat wisata religi Kompleks Masjid Kesultanan Banten di Kasemen, Serang, Banten, Ahad (4/7/2021). Pemprov Banten menutup sementara sejumlah objek wisata selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat tanggal 3 - 20 Juli akibat tingginya angka penularan COVID-19 yang terjadi di hampir semua kabupaten/kota kecuali di Kabupaten Pandeglang.

Foto: Antara/Asep Fathulrahman
Oleh raja Banten, Wangsakara diberi gelar baru, yakni Kiai Mas Haji.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Pada 1636, Sultan Banten mengutus sejumlah duta kepada Syarif Makkah Zaid bin Muhsin. Tujuannya agar penguasa Kota Suci itu dapat mengakui secara resmi dirinya, yakni Abdulmafakhir Mahmud Abdulkadir, sebagai raja Kesultanan Banten. Dalam rombongan yang bertolak ke Tanah Suci, terdapat Aria Wangsakara.

Para duta Banten itu berangkat dengan menumpangi sebuah kapal laut dari Pelabuhan Banten. Rute yang ditempuhnya ialah Selat Sunda, pesisir barat Pulau Sumatra, dan transit sejenak di Kolombo (Sri Lanka). Dengan menaiki kapal wakaf Sultan Mughal, Akbar I, mereka meneruskan perjalanan laut hingga berlabuh di Jeddah.Setelah menunggu beberapa saat, rombongan ini melalui perjalanan darat dengan karavan unta. Akhirnya, tibalah semua di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga

Ali mengatakan, berdasarkan sumber-sumber sejarah, para utusan Banten itu menghadiahkan sejumlah komoditas hasil bumi kepada Syarif Makkah. Di antaranya ialah cengkeh, pala, cendana, kasturi, dan kayu gaharu. Mereka juga menghaturkan salam hormat sembari mencium kaki sang pemimpin Kota Suci. Tuan rumah pun menyambut para duta ini dengan begitu hangat.

Setelah penyampaian hadiah, rombongan juga memberikan surat Sultan Banten. Setelah surat itu diterima, Syarif Makkah meminta saran dari para wazirnya, apakah surat tersebut sebaiknya diteruskan kepada khalifah di Turki. Para penasihat itu berkata, surat itu agar disimpan saja.

 

 

sumber : Islam Digest
Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile