Sunday, 9 Muharram 1444 / 07 August 2022

Sunday, 9 Muharram 1444 / 07 August 2022

9 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Analis: Pergerakan IHSG Dibayangi Isu Reshuffle Kabinet Jokowi

Rabu 15 Jun 2022 07:42 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Karyawan berjalan di dekat layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya pada pembukaan perdangan sesi kedua hari ini, Rabu (15/6). IHSG kembali jatuh dari level psikologis 7.000 ke posisi 6.989,56.

Karyawan berjalan di dekat layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya pada pembukaan perdangan sesi kedua hari ini, Rabu (15/6). IHSG kembali jatuh dari level psikologis 7.000 ke posisi 6.989,56.

Foto: ANTARA/Aprillio Akbar
Penantian pengumuman Reshuffle Kabinet Jokowi berpotensi negatif bagi IHSG

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya pada pembukaan perdangan sesi kedua hari ini, Rabu (15/6/2022). IHSG kembali jatuh dari level psikologis 7.000 ke posisi 6.989,56.

Direktur MNC Asset Management Edwin Sebayang mengatakan pergerakan IHSG hari ini dibayangi beberapa sentimen negatif baik eskternal maupun internal. Salah satunya kabar mengenai pergantian (reshuffle) sejumlah menteri.

Baca Juga

"Penantian pengumuman Reshuffle Kabinet Rabu ini berpotensi menjadi sentimen negatif bagi perdagangan Rabu ini," kata Edwin, Rabu (15/6/2022). 

Dari eksternal, menurut Edwin, penurunan bursa utama Wall Street juga mempengaruhi pergerakan IHSG. Setelah turun tajam selama 4 hari berturut-turut sebesar 8,27 persen, indeks DJIA kembali turun sebesar 0,50 persen pada perdagangan Selasa.

"Investor mengantisipasi naiknya Fed Fund Rate (FFR) sebesar 75 bps yang diumumkan pada 15 Juni 2022 sebagai respons naiknya inflasi tertinggi selama 41 tahun terakhir," kata Edwin.

Tingginya inflasi AS dan akan agresifnya The Fed menaikkan FFR bukan hanya berdampak atas tajamnya kejatuhan Indeks DJIA tetapi juga berdampak atas naiknya yield obligasi AS segala tenor khususnya tenor 10 tahun yang saat ini sudah mendekati level 3,5 persen.

Kejatuhan tajam Indeks DJIA dan naiknya yield obligasi AS disebut akan semakin menekan pasar saham. Selain itu, berlanjutnya kejatuhan harga beberapa komoditas seperti minyak, timah, batu bara, emaa hingga nikel juga akan berdampak kepada saham-saham terkait. 

Pada awal perdagangan sesi kedua hari ini, ADRO telah jatuh sebesar 6,75 persen, disusul INCO yang terpangkas 5,21 persen. PTBA dan ITMG masing-masing terkoreksi sebesar 4 persen. Kemudian AALI melemah 2 persen. 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile