Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

2 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Ijtihad Izzuddin bin Salam: Kala Penguasa Mesir Dimerdekakan dari Status Budak  

Senin 11 Jul 2022 16:26 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Mesir. Izzuddin bin Salam terkenal sebagai ulama yang tegas dalam pendirian

Ilustrasi Mesir. Izzuddin bin Salam terkenal sebagai ulama yang tegas dalam pendirian

Foto: EPA-EFE/MOHAMED HOSSAM
Izzuddin bin Salam terkenal sebagai ulama yang tegas dalam pendirian

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi Lc MA, dosen STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir

REPUBLIKA.CO.ID, — Saya tertarik membaca kembali biografi Izzuddin bin Salam dengan seksama dalam Thabaqat Syafi’iyyah Kubra karya Imam Tajuddin as-Subki. 

Ada banyak pelajaran dan pengajaran yang dapat dipetik dari kehidupan sang alim yang diijuluki dengan sultan al-‘ulama itu. Tidak hanya keilmuannya, melainkan juga keberanian dan keistiqamahannya dalam menyampaikan kebenaran.

Baca Juga

Beberapa tokoh penting dalam kerajaan Mesir kala berasal dari Turki. Mereka belum merdeka sepenuhnya, meskipun sudah menjadi penguasa. Imam al-‘Izz menilai bahwa jual-beli, bahkan nikah mereka tidak sah.

Di antara mereka bahkan ada yang menjabat sebagai wakil sultan. Ketika tahu fatwa Syekh Izzuddin bin Salam tentang mereka, dia sangat murka. Bagaimana mungkin syekh begitu berani menilai mereka masih budak. 

Mereka berkumpul lalu bertemu dengan Imam Izzuddin bin Salam. Dengan tenang Imam Izzuddin berkata, “Solusinya adalah nama kalian dipanggil satu persatu dalam satu majelis khusus, kemudian kalian dilelang. Dengan cara itu baru kalian merdeka secara syariat.” 

Mereka tidak terima dengan saran sang Imam. Mereka mengadukan hal itu kepada Sultan. Sultan meminta Imam Izzuddin menarik fatwanya. Tapi bukan Imam al-‘Izz sosok yang menarik fatwa hanya karena ancaman penguasa. Sultan pun berang. Dia menganggap Imam Izzuddin telah ikut campur dalam hal yang bukan urusannya. Dia bahkan sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas pada sang Imam. 

Sang Imam pun marah. Bukan karena dirinya tersinggung melainkan karena keengganan sang sultan menerapkan hukum syariat. Akhirnya sang Imam mengangkut barang-barangnya di atas seekor keledai. Sementara keluarganya diangkutnya dengan keledai yang lain. Dia bertekad meninggalkan Kairo menuju Syam. 

Baru berjalan beberapa ratus meter, lebih dari separuh masyarakat Mesir datang menyusulnya. Bahkan para wanita dan anak-anak pun ikut menyusul sang Imam. Berita ini sampai ke telinga Sultan. 

Ada yang berkata kepadanya, “Kalau Syekh Izzuddin sampai pergi maka kekuasaanmu akan ikut pergi.” Akhirnya Sultan pergi menyusul sang Imam dan memohon maaf serta meminta keridhaannya. Sang Imam bersedia kembali dengan syarat para penguasa yang masih berstatus budak itu bersedia dijual untuk bisa merdeka secara sah.  

Wakil Sultan masih belum bisa menerima fatwa Imam Izzuddin. Dia berkata, “Bagaimana mungkin Syekh ini memanggil nama kami untuk dijual sementara kami adalah penguasa di daerah ini?” Tapi Sang Imam tetap teguh pada fatwanya. Wakil Sultan pun murka. Dia  berkata, “Demi Allah, aku akan membunuhnya dengan pedang ini.”

Dia pun datang bersama beberapa pengawalnya ke rumah sang Imam dengan pedang yang terhunus di tangannya. Setelah pintu dibuka keluarlah putra Syekh Izzuddin yang bernama Abdul Latif.

Ketika melihat Wakil Sultan berada di depan rumah sambil menghunus pedang dia kembali masuk memberitahu ayahnya. Sang ayah tak gentar sedikitpun. Bahkan wajahnya tak berubah sama sekali. Dengan tenang dia berkata pada anaknya, “Anakku, ayahmu belum pantas untuk terbunuh di jalan Allah.”

Sang Imam keluar dari rumahnya. Baru saja pandangannya bertemu dengan pandangan sang Wakil, tangan sang Wakil gemetar, badannya menggigil dan pedang yang dihunusnya terlepas. Dia menangis dan memohon doa pada sang Imam. Lalu dia berkata, “Ya Sayyidi, apa yang akan engkau lakukan pada kami?” Sang Imam berkata, “Aku akan memanggil nama kalian satu persatu untuk dijual.”  

“Apa yang engkau lakukan terhadap uang hasil penjualan ini?” “Digunakan untuk kepentingan kaum Muslimin.” 

Akhirnya para penguasa itu pun dijual dengan harga tinggi lalu hasilnya diserahkan ke baitul mal.

رحم الله الإمام القدوة عز الدين بن عبد السلام سلطان العلماء ورضي عنه   

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile