Kamis 27 Feb 2025 16:26 WIB

Tetap On-Bid, Pengemudi Ojol tidak Ikut-ikutan Demo

Seruan off-bid tidak didukung oleh berbagai komunitas ojol.

Rep: Erik PP/Muhammad nursyamsyi/ Red: Erik Purnama Putra
Sejumlah pengemudi ojek online menggelar aksi demo di depan kantor Kemenaker RI, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2025), menuntut aplikator memberikan THR.
Foto: Republika/Prayogi
Sejumlah pengemudi ojek online menggelar aksi demo di depan kantor Kemenaker RI, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2025), menuntut aplikator memberikan THR.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah ramainya ajakan untuk mematikan aplikasi ojek online oleh Asosiasi Ojol Garda Indonesia pada Kamis (27/2/2025), ternyata masih banyak driver yang memilih untuk tetap bekerja. Mereka menegaskan, tanggung jawab utama mereka adalah menafkahi keluarga, bukan ikut serta dalam aksi yang dapat mengurangi pemasukan harian mereka.

Aksi demo tersebut dilakukan sebagai bentuk aspirasi dari sebagian pengemudi ojol yang menginginkan perubahan terhadap beberapa kebijakan yang mereka anggap kurang menguntungkan. Sebagai bagian dari upaya menyampaikan aspirasi, para pengemudi yang ikut aksi menyerukan demo serta gerakan off-bid massal.

Baca Juga

Salah satu yang menanggapi seruan tersebut adalah Ketua Presidium Koalisi Ojol Nasional (KON) Andi Kristiyanto. Dia mengaku, sangat prihatin dengan seruan yang disampaikan oleh pihak tertentu kepada mitra ojol dengan kondisi saat ini yang dirasa kurang tepat.

"Ada kesan pihak yang menyerukan agar off-bid dalam aksi mereka itu, hanya klaim sepihak yang tidak didukung oleh rekan rekan ojol dari berbagai komunitas," kata Andi kepada wartawan.

Dalam pernyataannya, Andi menegaskan bahwa seruan off-bid tidak didukung oleh berbagai komunitas ojol. Dia juga menyebutkan, adanya indikasi eksploitasi kepentingan ojol demi keuntungan pribadi atau kelompok tertentu dalam aksi turun ke jalan.

"Dengan fakta tersebut, kawan-kawan ojol juga meragukan kredibilitas pihak tersebut, yang diduga memanfaatkan ojol untuk kepentingan pribadinya, tidak ada manfaatnya buat kawan-kawan ojol dan bahkan bisa merusak citra ojol yang bisa berakibat menurunnya kepercayaan masyarakat pengguna jasa terhadap ojol, dan tentunya seruan tersebut merugikan kawan-kawan ojol," kata Andi.

Pengemudi ojol Suyanto juga menolak ajakan untuk mematikan aplikasi sehari. "Saya tau ada ajakan buat demo sama off-bid, tapi saya tidak ikut demo dan tetep on-bid karena ada biaya yg harus saya cari untuk keluarga," ucapnya.

Gustika juga menolak untuk tidak menarik penumpang selama sehari. "Tidak, saya dan driver Shelter Tanah Abang tetap on bid seperti biasa, gak ikutan demo juga," katanya.

Ketika para driver ditanya apakah mereka mengenal Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mayoritas dari mereka menjawab tidak tahu. "Siapa itu? Saya nggak pernah dengar namanya," ujar salah satu driver.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement