Jumat 28 Feb 2025 16:53 WIB

Penyaluran Kredit BNI Capai Rp 749,8 Triliun pada Januari 2025

Fundamental solid BNI terlihat dari kinerja sepanjang 2024 dan Januari 2025.

BNI Cabang Seoul. Pada Januari 2025, laba bersih BNI tumbuh 9,7 persen yoy menjadi Rp 1,63 triliun dari sebelumnya Rp 1,48 triliun pada Januari 2024.
Foto: Surya Dinata/Republika
BNI Cabang Seoul. Pada Januari 2025, laba bersih BNI tumbuh 9,7 persen yoy menjadi Rp 1,63 triliun dari sebelumnya Rp 1,48 triliun pada Januari 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat bahwa penyaluran kredit pada Januari 2025 mencapai Rp 749,8 triliun, tumbuh 10,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Januari 2024 yang sebesar Rp 679,9 triliun.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, upaya perseroan untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan dibuktikan dari pencapaian kinerja keuangan 2024 hingga periode satu bulan pertama 2025.

Baca Juga

”Fundamental solid BNI terlihat dari kinerja sepanjang 2024 dan Januari 2025 yang secara konsisten menunjukkan pertumbuhan laba dan penyaluran kredit dalam mendukung ekspansi kami tahun ini,” kata Royke dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat.

Pada Januari 2025, laba bersih BNI tumbuh 9,7 persen yoy menjadi Rp 1,63 triliun dari sebelumnya Rp 1,48 triliun pada Januari 2024.

Kenaikan laba ini tidak hanya dibarengi dengan pertumbuhan kredit melainkan juga dari sisi pendapatan bunga bersih (net interest income/NII). Adapun NII tercatat meningkat dari Rp3,12 triliun menjadi Rp3,17 triliun.

Perseroan menyampaikan, BNI secara konsisten memprioritaskan pertumbuhan profitabilitas di mana pertumbuhan kredit masih ditopang oleh segmen berisiko rendah yakni segmen korporasi yang tumbuh 17 persen yoy dan kredit konsumer yang meningkat 14 persen yoy.

”Setelah beberapa tahun disiplin pada portofolio manajemen, BNI berhasil menjaga kualitas aset yang solid yang terlihat dari credit cost sebesar 1 persen pada Januari 2025,” ujar Royke.

Selain itu, catat Royke, tekanan pada net interest margin (NIM) juga mulai mereda pada awal tahun ini dibandingkan kondisi terakhir tahun lalu.

Hal ini tidak terlepas dari kondisi makro yang memberikan keuntungan bagi BNI, terutama tren penurunan imbal hasil (yield) SRBI serta potensi tambahan likuiditas ke sistem perbankan pada semester kedua dengan diterapkannya devisa hasil ekspor (DHE) yang harus ditempatkan di perbankan dalam negeri 100 persen selama satu tahun.

Pada 26 Maret 2025, perseroan juga berencana untuk mengusulkan dividend payout ratio yang lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, realisasi dividen tercatat sebesar 50 persen dari total laba bersih tahun buku 2023.

”Berdasarkan pencapaian tersebut, kami yakin BNI dapat memberikan nilai tambah yang menarik bagi investor dan seluruh stakeholder,” tutup Royke.

Sebagai informasi, BNI membukukan laba sebesar Rp21,5 triliun untuk tahun buku 2024 atau meningkat 2,87 persen yoy dibandingkan laba tahun buku 2023 sebesar Rp20,9 triliun.

Pada tahun lalu, BNI melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) telah memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 50 persen dari laba bersih tahun buku 2023 atau setara dengan Rp10,45 triliun.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement