Oleh: Taufik Ikram Jamil, Budayawan dan Tetua Adat Melayu Riau
Dalam tunjuk ajar Melayu, berdasarkan posisi dan fungsi, pemimpin sekurang-kurangnya menjadi inisiator dari suatu kerja sama.
Sebab: Yang dikatakan pemimpin/Didahulukan selangkah/Ditinggikan seranting/ Dituakan oleh orang banyak/Dikemukakan oleh orang ramai/Diangkat menurut adat/Dikukuhkan menurut lembaga/. Yang dikatakan pemimpin: Berkata lidahnya masin/Bercakap pintanya kabul/Melenggang tangannya berisi/Menyuruh sekali pergi/Menghimbau sekali datang/Melarang sekali sudah//
Dalam rangkaian posisi yang harus berada di depan, dengan bayang-bayang sebagai insiator dalam suatu kerja sama, lebih lanjut disebutkan:
Bagaikan kayu di tengah padang
Tempat beramu besar dan kecil
Rimbun daun tempat berteduh
Kuat dahannya tempat bergantung
Besar batang tempat bersandar
Kokoh uratnya tempat bersilang
Tempat kusut diselesaikan
Tempat keruh dijernihkan
Tempat sengketa disudahkan
Tempat hukum dijalankan
Tempat adat ditegakkan
Tempat syarak didirikan
Tempat lembaga dituangkan
Tempat undang diundangkan
Tempat memberi kata putus
Dalam suatu masyarakat, bahkan negeri, pemimpin memiliki berbagai kelihaian mengatur dan mengarahkan: Yang menimbang sama berat/Yang menyukat sama pepas/Yang mengukur sama panjang/Yang menakar sama penuh/Yang menyimpul sama mati/Yang menyimpai sama kuat/Yang mengikat sama-sama kokoh//.
Dalam ungkapan lain untuk menjaga agar kerja sama dapat berjalan sebaik mungkin, tunjuk ajar Melayu menyebutkan bahwa seorang pemimpin dapat meluruskan sesuatu sesuai dengan keinginan bersama: Yang berbongkol ditarahnya/Yang kesat diampelasnya/Yang menjungkat diratakannya/Yang miang dikikisnya/Yang melintang diluruskannya/Yang menyalah dibetulkannya/Yang tidur dijagakannya/Yang lupa diingatkannya/Yang sesat diunutnya/Yang hilang disawangnya//
Seorang pemimpin menjadikan musyawarah dan mufakat sebagai hal-hal yang wujud. Melalui metafora “rumah” dan “tempat”, musyawarah maupun mufakat, tak pelak lagi dipandang sebagai hal yang vital seorang pemimpin dalam menjalankan fungsinya. Hal tersebut terungkap dalam ungkapan yang dikutip budayawan Riau, Tenas Effendy, sebagai berikut:
Yang berumah dalam musyawarah
Yang bertempat dalam mufakat
Yang berdiri dalam budi
Yang tegak dalam syarak
Yang duduk dalam khusyuk
Yang memandang dengan undang
Yang melihat dengan adat
Yang mendengar dengan tunjuk ajar
Yang berkata dengan sunnah
Yang berlaku dengan ilmu
Yang berjalan dengan iman
Yang melangkah dengan petuah
Menyadari pentingnya pemimpin dalam kehidupan manusia, berbangsa, bernegara, bermasyarakat, berumah-tangga, dan sebagainya, maka orang Melayu berusaha mengangkat pemimpin yang lazim disebut “orang yang dituakan” oleh masyarakat dan kaumnya.
Pemimpin ini diharapkan mampu membimbing, melindungi, menjaga, dan menuntun masyarakat dalam arti luas, baik untuk kepentingan hidup duniawi maupun untuk ukhrawi.
Pemimpin seperti ini akan mampu memberikan kesejahteraan lahiriah dan batiniah bagi masyarakat, bangsa dan negaranya. Lebih lanjut disebutkan:
Yang dikatakan pemimpin
Mau menampin tahan berlenjin
Mau bersakit tahan bersempit
Mau berteruk tahan terpuruk
Mau berhimpit tahan berlengit
Mau bersusah tahan berlelah
Mau berpenat tahan bertenat
Mau berkubang tahan bergumbang
Mau bertungkus lumus tahan tertumus
Mau ke tengah tahan menepi
Mau memberi tahan berbagi
Mau bersusah tahan merugi
Dengan peran dan fungsi pemimpin seperti dikemukakan di atas, seorang pemimpin dalam alam Melayu memang harus amanah. Konsep amanah yaitu kepercayaan yang menjadikan seseorang untuk memelihara dan menjaga sebaik-baiknya hal yang diamanahkan kepadanya, tidak saja dari orang-orang yang dipimpinnya, tetapi juga kepada Allah SWT.
Dalam karakter ini, amanah mengandung setidak-tidaknya tiga keunggulan yakni amal, asin, asuh. Pemimpin amal memiliki perilaku yang baik sehingga menjadi modal utama dalam suatu kepemimpinan yang dapat dipercayai oleh masyarakat. Pemimpin asin, pemimpin yang selalu mengatakan apa yang sebenarnya tanpa menutup-nutupi atau bersusaha terlihat baik. Pemimpin selalu membuktikan perkataannya dengan perbuatan yang nyata.
Sedangkan pemimpin asuh mengutamakan kepentingan negeri dan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Menjalankan tugas sebagai suatu amanah yang harus dikerajakan dengan sebaik-baiknya. Rela berkorban dan arif dalam bertindak.
Khusus bagi orang Riau ada jejak arif seorang pemimpin. Ini ditujukan oleh sosok
Sultan Siak, Syarif Kasim II yg didampingi permaisurinya, bertemu Presiden Soekarno di Yogyakarta pada tahun 1949. Beliaulah vekunjung ke sana setelah melalui surat menyatakan bergabung dengan RI tahun 1945.
Dalam kesempatan itu, Sultan Syarif Kasim antara lain menyerahkan uang jutaan gulden untuk perjuangan menegakkan NKRI. Belum lagi kawasan kerajaan yang kaya raya termasuk ladang minyak.