REPUBLIKA.CO.ID, PARIS – Ratusan Muslim menggelar konferensi Islam tahunan di Le Bourget, Prancis. Konferensi yang diselenggarakan oleh Uni Organisasi Islam Prancis (UOIF) itu boleh dibilang merupakan pertemuan Muslim terbesar di Eropa.
Setiap tahunnya, puluhan ribu Muslim dari seluruh Eropa menghadiri konferensi tersebut. Untuk kali ini, antusiasme begitu besar, apalagi Muslim Eropa tengah menatap tantangan berat ke depan.
Sebelum konferensi ini digelar, Muslim Prancis telah memprediksi politisi Prancis bakal menyeret Muslim menjadi komoditas. Sebabnya, jauh-jauh hari pemimpin komunitas Muslim mengaku prihatin dengan suasana politik saat ini.
"Selalu ada ketakutan dalam benak kami bahwa dalam setiap pemilu Islam dan Muslim menjadi tema kampanye," ungkap Presiden OUIF, Ahmed Jaballah, sebagaimana dilansir onislam.net, Senin (9/4).
Celakanya, kata Ahmed, sikap hati-hati itu tidak lagi ampuh lantaran peristiwa penembakan di Toulouse. "Kini, ketakutan itu terbukti. Islam dan Muslim telah menjadi isu utama dalam pemilihan presiden," ucapnya.
Menurut Ahmed, isu Islam dan Muslim segera meniadakan masalah pengangguran atau perumahan. Tidak ada lagi krisis keuangan. "Yang ada hanya masalah dengan Muslim," tandasnya.
Seniman Grafiti, Pleks, mengaku gerah dengan situasi di Prancis. Menurutnya, apa yang disampaikan media Prancis tidak menggambarkan Islam dan Muslim secara utuh. "Saya dapat menggantikan peran media untuk masalah itu," ketusnya.
Lain lagi dengan Karim, Mahasiswa Muslim asal Irlandia. Ia menyesalkan Islam dan Muslim jadi komoditas politik di Prancis. "Yang tidak diuntungkan dalam hal ini adalah umat Islam. Mohammed Merah adalah kriminal, tapi seluruh komunitas Muslim bukanlah Merah," tegasnya.