Senin 15 Oct 2012 22:37 WIB

'Mendikbud tak berpihak pada Korban Pemerkosaan'

Rep: Bilal Ramadhan/ Red: Chairul Akhmad
Korban perkosaan (ilustrasi)
Foto: Blogspot.com
Korban perkosaan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhammad Nuh, menyampaikan permohonan maaf secara resmi terkait dengan pernyataan yang dikeluarkannya di ROL pada Kamis (11/10) lalu.

Saat itu, M Nuh menyebut korban pemerkosaan kadang sama-sama senang tapi mengaku diperkosa.

Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Lodewijk F Paat, permohonan maaf yang disampaikan M Nuh tidak menyelesaikan masalah. Bahkan, Lodewijk menyebut M Nuh terkesan membela pihak SMP Budi Utomo, Depok, untuk mengeluarkan SA (14), korban pemerkosaan di Depok.

"Iya, sangat terkesan membela pihak sekolah daripada berpihak kepada korban pemerkosaannya," kata dosen yang kerap disapa Lody ini kepada ROL, Senin (15/10).

Lody menambahkan dalam permohonan maaf tersebut, M Nuh mengatakan di satu sisi pendidikan merupakan hak asasi setiap anak. Namun di sisi lain, M Nuh mengatakan sekolah memiliki kewenangan untuk mengembalikan siswanya jika melakukan kesalahan dan kenakalan.

Lody menganggap pernyataan M Nuh itu sangat membingungkan. Pendapatnya tersebut tidak mencerminkan kapasitasnya sebagai Mendikbud yang seharusnya melindungi korban pemerkosaan dan menjamin haknya untuk bersekolah.

"Mungkin lain halnya kalau membunuh seperti yang terjadi di SMAN 70 Jakarta, tapi ini kan dia jelas-jelas menjadi korban pemerkosaan. Apa pun alasannya, dia (SA) harus dibantu, Mendikbud sebagai perwakilan negara juga harus menjamin pendidikannya," tegas Lody.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement