REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Survei yang dilakukan lembaga layanan keuangan, SIBOS, menunjukkan sebagian besar masyarakat optimistis keuangan syariah bisa menjadi alternatif keuangan global.
Sebanyak 48 persen responden percaya keuangan syariah dapat menjadi alternatif global, namun hanya untuk produk tertentu saja.
Sementara 16 persen responden lainnya melihat keuangan syariah sebagai alternatif langsung semua arena keuangan di masa depan.
Sedangkan sebanyak 27 persen resonden mengatakan keuangan syariah sama sekali tidak akan menjadi alternatif dari pembiayaan konvensional.
Managing Director Azka Capital, Rushdi Siddiqui mengatakan beberapa tahun lalu ada inisiatif terkait penggunaan dana syariah. "Ini gagal karena industri tidak siap menerimanya," ujarnya seperti dikutip The Asset, Selasa (17/9).
Direktur Bank Islam Malaysia, Puan Norashikin Mohd Kassim mengatakan meski relatif baru, beberapa bank sudah mulai menawarkan layanan keuangan syariah pada nasabah. Di Malaysia, dokumen yang berkaitan dengan transaksi keuangan syariah telah distandardisasi.
"Bayangkan, para ulama perlu berdebat tentang apakah suatu produk derivatif berbasis syariah atau tidak selama enam bulan. Pada saat itu, pasar akan dipindahkan dan produk kehilangan tujuannya," kata dia.
Banyaknya perdebatan terkadang membuat konflik kepentingan tidak dapat dihindari.
Kepala Struktur Keuangan Bank Dunia, Michael Bennett yakin tidak realistis jika keuangan syariah akan menjadi alternatif sepenuhnya dari keuangan konvensional. "Kita berbicara pasar keuangan syariah sebesar 2 triliun dolar AS. Ini bahkan lebih kecil dari dana yang kami kelola," ucap Bennett.
Keuangan syariah, kata Bennett, selalu menonjolkan bebas bunga dan tidak menyasar bisnis alkohol, judi dan daging babi. "Kita perlu mengembangkan keuangan syariah menjadi sesuatu yang lebih positif dan menunjukkan kepada investor yang sadar sosial agar sektor ini tumbuh berkelanjutan," ujarnya.