REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Kabar gembira datang dari daratan Inggris. Negeri Ratu Elizabeth itu meluncurkan bursa syariah yang diberi nama “Islamic Index” di Bursa Efek London.
Perdana Menteri Inggris David Cameron mengumungkan secara resmi pembukaan indeks ini, Bahkan, pihaknya sedang menyusun rencana selanjutnya untuk menerbitkan obligasi syariah. “Hari ini Bursa Efek London mengumumkan terciptanya indeks baru,” ujarnya, seperti dilansir dari AFP, Rabu (30/10).
Cameron berbicara secara langsung pada sekitar 1800 pemimpin politik dan bisnis, yang bertemu dalam World Islamic Economic Forum Kesembilan, yang berlangsung di London.
Ajang ini pertama kali digelar di luar negara Muslim. Hal ini membuktikan Inggris sedang mencoba untuk membangun hubungan ekonomi yang lebih kuat dengan dunia Islam.
Dengan membuat indeks baru syariah ini, menurutnya adalah cara baru yang tak ada salahnya dicoba. “Kami ingin mengidentifikasi peluang ekonomi Islam, yang kini menjadi semakin mengemuka di seluruh dunia,” katanya.
Ia pun bangga negaranya bisa menjadi negara non Muslim pertama yang punya indeks syariah. “Kota London menjadi yang pertama di dunia,” katanya.
Indeks syariah ini akan berisikan perusahaan-perusahaan yang memenuhi prinsip investasi secara syariah, sesuai dengan hukum Islam. Dasarnya adalah investasi yang disusun berdasarkan pertukaran kepemilikan atau aset riil, sedangkan uang hanya digunakan sebagai metode pembayaran.
Dalam prinsip syariah, juga dilarang adanya bunga.
Mimpi Inggris selanjutnya adalah secepatnya bisa menerbitkan obligasi syariah. Cameron pun berharap bahwa Inggris akan menjadi negara pertama di luar negara Islam yang bisa menerbitkan obligasi tersebut . “Selama ini orang-orang telah ramai menerbitkan sukuk yang bukan syariah,” ujarnya.
Namun menurutnya hal ini belum cukup. Inggris, menurutnya akan membuka mata dunia dan menunjukkan cara bagaimana melakukan perubahan. “Yang dibutuhkan adalah tantangan pragmatis dan kemauan politik, dan kami punya keduanya,” katanya.
Tak main-main, besarnya investasi yang dikucurkan Departemen Keuangan Inggris pada penerbitan obligasi, membutuhkan dana sekitar 200 juta pounsterling atau sekitar 234 juta euro atau 322 miliar dolar AS.
Pertumbuhan nilai investasi syariah memang semakin meningkat hingga 150 persen sejak 2006 lalu. Investasi syraih secara global, diperkirakan mencapai nilai 1,3 triliun poundsterling.