REPUBLIKA.CO.ID, PANGANDARAN – Salah seorang kakek, Toton (80) megurus cucunya Syifa (18 tahun) yang menderita gizi buruk seorang diri. Meski dalam kondisi memilukan, Toton tetap bersabar bertahan merawat cucu satu-satunya itu.
Dia menyiapkan semua kebutuhan sehari-hari Syifa seorang diri. Hal ini ia lakukan semenjak ayah Syifa meninggal dalam tragedi kecelakaan mobil saat Syifa masih bayi.
“Syifa sejak usia 5 bulan ditinggal meninggal ayahnya, terus diserahkan ke saya oleh ibunya usia 8 bulan, ibunya tidak mau mengurusi Syifa,” ujarnya dalam keterangan pers yang dikirim Dompet Dhuafa kepada Republika.co.id Kamis (3/3).
Meski Syifa tidak mampu berkomunikasi lewat verbal layaknya remaja sehat pada umumnya, namun Toton paham apa yang dibutuhkan Syifa. Hanya Toton yang paham ‘bahasa hati’ cucu kesayangannya tersebut. Meski usianya sudah remaja, Syifa hanya bisa tergeletak tak berdaya.
Tubuhnya nyaris seperti tengkorak, hanya tinggal tulang berbalut kulit, kondisinya sangat kurus dan tidak bisa melakukan apa-apa. Di usia produktifnya, jangankan untuk makan dan minum, berkata ataupun tertawa pun Syifa tak bisa. Untuk komunikasi, ia hanya bisa meringkih mengeluarkan teriakan yang tertahan. Hanya Toton yang mengerti bahasa isyaratnya itu.
Toton mengatakan selama hampir 17 tahun tidak ada bantuan yang ia terima untuk Syifa. Namun begitu, Toton yang sehari-harinya menjadi buruh tani bertekad mengurus cucunya meski seorang diri. Dengan penuh kasih sayang, tiap hari Toton menyuapi nasi dengan lauk sekadarnya.
“Pernah saya kasih dia nasi sama garam saja karena kondisi saya yang serba kekurangan. Meski saya mantan tentara, tapi kan saya nggak punya pensiunan,” ujarnya.
Saat berkunjung ke rumahnya, tim Respon Darurat Kesehatan (RDK) Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menawarkan pelayanan perawatan lanjutan untuk Syifa. Sayangnya tawaran tersebut belum mendapat sambutan dari Toton dengan alasan kondisi kesehatan dirinya yang masih terganggu.
Baca juga, Gizi Buruk, Berat Bocah Dua Tahun Ini Hanya 4,5 Kg.