Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

11 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Tanda DKI Jakarta Keluar dari Status Zona Merah

Jumat 13 Aug 2021 13:53 WIB

Red: Andri Saubani

Warga memperlihatkan surat vaksin  Covid-19 di kawasan Kelurahan unter Agung, Jakarta Utara, Jumat (13/8). Kegiatan tersebut dalam rangka mengajak masyarakat setempat untuk mengikuti vaksinasi Covid-19 mengingat kebijakan PPKM di Jakarta memberlakukan surat vaksin sebagai syarat beraktivitas di tempat umum. Republika/Thoudy Badai

Warga memperlihatkan surat vaksin Covid-19 di kawasan Kelurahan unter Agung, Jakarta Utara, Jumat (13/8). Kegiatan tersebut dalam rangka mengajak masyarakat setempat untuk mengikuti vaksinasi Covid-19 mengingat kebijakan PPKM di Jakarta memberlakukan surat vaksin sebagai syarat beraktivitas di tempat umum. Republika/Thoudy Badai

Foto: Republika/Thoudy Badai
"Jakarta sudah masuk zona hijau. Terima kasih," kata Ariza.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Febryan. A, Flori Sidebang, Rr Laeny Sulistyawati

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengklaim, Ibu Kota sudah keluar dari zona merah penularan Covid-19. Kini, Jakarta sudah berstatus zona hijau.

Baca Juga

Ariza menerangkan, keluarnya Jakarta dari zona merah ditandai dengan hanya tersisa tujuh wilayah rukun tetangga (RT) yang berstatus zona merah. Sebanyak 349 RT lainya zona oranye.

Lalu, 24.011 RT sisanya sudah berstatus zona hijau. "Jadi Jakarta sudah masuk zona hijau. Terima kasih," kata Ariza di Balai Kota Jakarta, Jumat (13/8).

Berhasilnya Jakarta jadi zona hijau, kata Ariza, tak lepas dari dukungan semua pihak. Di antaranya dukungan Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, komunitas, dunia usaha, dan tentu partisipasi masyarakat yang sudah disiplin melaksanakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

"Mudah-mudahan kita tingkatkan terus, sehingga kasusnya (semakin) menurun," kata Ariza.

Ariza menambahkan, tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) di 140 rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Jakarta juga turun menjadi 33 persen. Sedangkan BOR ruang ICU turun menjadi 59 persen.

In Picture: Pembukaan 100 Titik Penyekatan di Jakarta dan Sekitarnya

photo
Personel kepolisian membuka pembatas jalan penyekatan di kawasan Jalan Fatmawati, Jakarta, Rabu (11/8/2021). Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menghapus penyekatan di 100 titik Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) menyusul pemberlakuan uji coba kebijakan ganjil-genap di Ibu Kota pada 10-16 Agustus 2021. - (ANTARA/Reno Esnir)
 

 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Dwi Oktavia pada Kamis (12/8), mengungkapkan, terjadi konsistensi penurunan tingkat keterisian tempat tidur atau BOR bagi pasien Covid-19 di 140 rumah sakit rujukan di Ibu Kota. Jumlah pasien Covid-19 dengan status sedang dan berat yang mendapat perawatan di rumah sakit menurun cukup signifikan.

Dwi memerinci, berdasarkan data hingga 8 Agustus 2021, pihaknya mencatat ada sebanyak 10.559 tempat tidur isolasi yang disediakan. Dari jumlah ini, kata dia, 4.116 tempat tidur diisi oleh pasien Covid-19.

“Sudah terjadi penurunan yang cukup signifikan, sehingga keterisian tempat tidur (isolasi) saat ini juga ada di angka yang cukup rendah 39 persen,” kata Dwi, Kamis (12/8).

Hal serupa juga terjadi pada tempat tidur di ruang ICU. Ia menuturkan, tingkat keterisian tempat tidur ICU menurun menjadi 65 persen. Dwi menyampaikan, saat ini sebanyak 1.059 tempat tidur telah diisi oleh pasien, dari total 1.639 tempat tidur ICU yang disediakan.

“Kita harapkan tentunya dengan kondisi ini bisa memastikan orang yang membutuhkan perawatan ICU dapat dilayani,” ujarnya.

Namun, Dwi mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan tidak lengah terhadap penyebaran Covid-19. Ia juga mengimbau masyarakat untuk dapat mengurangi mobilitas.

“Kita sudah punya pengalaman sejak tahun 2020, kita seperti main roller coaster, naik dan turun kasus itu seiring dengan mobilitas masyarakat. Jadi kita tetap harus terus mengingatkan dan mengatur mobilisasi masyarakat dan jangan sampai kemudian memberikan peluang untuk terjadinya peningkatan kasus,” tutur dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile