Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

15 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Korut: Korsel Harus Hentikan Permusuhan Terlebih Dahulu

Jumat 24 Sep 2021 13:51 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Korsel-Korut

Korsel-Korut

Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis masih berperang

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Saudara perempuan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Kim Yo-jong menanggapi pernyataan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, yang mengusulkan  berakhirnya Perang Korea. Menurut Kim Yo-jong, Korea Selatan harus menghentikan kebijakan permusuhan terlebih dahulu sebelum mencapai perdamaian dengan Korea Utara.

"Yang perlu dihilangkan adalah sikap berbelit-belit, prasangka tidak logis, kebiasaan buruk, dan sikap bermusuhan yang membenarkan tindakan mereka sendiri sambil menyalahkan hak membela diri kita yang adil," kata Kim Yo-jong, dilansir Sputnik News, Jumat (24/9).

Baca Juga

Pada saat yang sama, Kim Yo-jong mencatat bahwa, Pyongyang bersedia untuk mengadakan negosiasi dengan Korea Selatan, jika mereka menghentikan provokasi. Dia tidak merinci kebijakan bermusuhan yang dimaksud. Tetapi sebelumnya Pyongyang mengecam latihan gabungan Seoul dengan Amerika Serikat, dan pengiriman selebaran propaganda ke Korea Utara.

Pengiriman selebaran propaganda mengakibatkan eskalasi ketegangan yang tak terduga musim panas lalu. Korea Utara menghancurkan kantor penghubung antar-Korea yang digunakan sebagai kedutaan de facto, dan memutuskan saluran komunikasi antara kedua negara. Korea Selatan kemudian melarang para aktivis mengirim selebaran ke Korea Utara.  

Awal bulan ini, kedua belah pihak saling tuding setelah Pyongyang melakukan dua uji coba rudal balistik. Sementara pada saat yang sama, Seoul melakukan uji coba rudal balistik yang diluncurkan dengan kapal selam.

Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis masih berperang, karena konflik 1950-1953 berakhir tanpa kesepakatan damai, tetapi gencatan senjata. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua belah pihak telah berhasil meningkatkan hubungan. Keduanya menandatangani deklarasi bersama yang bertujuan untuk mengakhiri kegiatan permusuhan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile