Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Merefleksi Serangan Umum 1 Maret 1949

Selasa 16 Nov 2021 17:25 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/Flori Anastasia Sidebang / Red: Agus Yulianto

Konferensi Meja Bundar yang digelar di Den Haag, Belanda, dari 23 Agustus hingga 2 November 1949.

Konferensi Meja Bundar yang digelar di Den Haag, Belanda, dari 23 Agustus hingga 2 November 1949.

Foto: IST
Daya juang masyarakat khususnya para pemimpin, sangat menentukan jalannya sejarah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perjuangan mempertahankan kemerdekaan sama pentingnya dengan meraih kemerdekaan. Kondisi itu tercermin jelas dalam episode sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, di mana untuk mempertahankan kemerdekaan membutuh peran serta dan kerja sama.

“Ini adalah bentuk kolaborasi masyarakat sipil dan militer, dirancang oleh Sultan Hamengkubuwono IX dan Panglima Jenderal Sudirman, dilaksanakan bersama oleh TNI dan rakyat Yogyakarta," ujar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, dalam Seminar Nasional "Serangan Umum di Jogja: Indonesia Masih Ada" secara daring pada Selasa (16/11).

Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah langkah strategis untuk mematahkan argumentasi internasional kala itu. Serangan umum yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama-sama dengan laskar rakyat itu, juga efektif membuktikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia masih ada.

“Kala itu awal Maret 1949, Sultan mendengar akan diselenggarakan rapat Dewan Keamanan PBB soal Indonesia dan Belanda. Sultan berkirim surat ke Panglima Sudirman untuk melakukan Serangan Umum untuk mengusir Belanda. TNI dan laskar rakyat berhasil menguasai Yogyakarta selama enam jam,” ujar Mahfud.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu menjelaskan, meski hanya enam jam, manfaat dari peristiwa itu terasa lebih dari 75 tahun hingga saat ini. Serangan itu, efektif mematahkan argumentasi Belanda ke dunia internasional bahwa Indonesia sudah tidak ada dan tidak berjalan efektif.

“Sekarang mungkin ancaman militer sudah jauh berkurang, tapi bisa jadi suatu saat terjadi, seperti gejolak yang terjadi di Asia, kemudian juga ada ancaman dalam bentuk lain. Ini semua cuma bisa kita hadapi dengan sinergi dan kerja sama antar elemen bangsa,” kata dia.

Dia kemudian menekankan, eksistensi Indonesia perlu dijaga dan perlu mematri kebanggaan bahwa Indonesia adalah bangsa yang memproklamirkan sendiri kemerdekaannya, bukan hadiah dari penjajah. Mahfud menyebutkan, itu salah satunya tercermin dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile