Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

30 Zulqaidah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Tumbuhan Ini Disebut Peneliti Berpotensi Jadi Obat Covid-19

Sabtu 12 Mar 2022 04:33 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Pohon Mimba (Neem tree) ternyata memiliki manfaat antivirus dan bisa membantu meredakan gejala infeksi SARS-CoV-2.

Pohon Mimba (Neem tree) ternyata memiliki manfaat antivirus dan bisa membantu meredakan gejala infeksi SARS-CoV-2.

Foto: www.wikimedia.com
Peneliti temukan tumbuhan yang bantu redakan gejala infeksi virus Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekstrak Azadirachta indica atau dikenal juga sebagai pohon mimba ternyata memiliki manfaat antivirus dan bisa membantu meredakan gejala infeksi SARS-CoV-2. Peneliti menilai pohon ini membawa harapan untuk masa depan pandemi.

Azadirachta indica merupakan pohon yang berasal dari India. Pohon yang juga dikenal sebagai neem tree ini telah lama digunakan dalam praktik pengobatan tradisional India, Ayurvedic.

Baca Juga

Manfaat pohon mimba dalam pengobatan Covid-19 diungkapkan dalam sebuah studi praklinis yang dilakukan oleh peneliti dari University of Colorado dan indian Institutes of Science Education and Research. Para peneliti memutuskan untuk mempelajari pohon mimba karena kulit pohon mimba dikenal bersifat antibakteri, antiinflamasi, antikanker, antialergi, antiparasit, dan antijamur.

"Tujuan dari studi ini adalah untuk mengembangkan obat berbasis pohon mimba yang dapat menurunkan risiko penyakit serius ketika seseorang terkena virus corona," ungkap peneliti dari departemen neurologi dan oftalmologi University of Colorado School of Medicine Dr Maria Nagel, seperti dilansir Medical News Today, Sabtu (12/3/2022).

Dalam studi ini, peneliti melakukan dua percobaan penggunaan ekstrak kulit pohon mimba. Percobaan pertama melibatkan sel paru-paru manusia dan percobaan kedua menggunakan tikus yang telah terinfeksi SARS-CoV-2.

Pada sel paru-paru manusia, ekstrak kulit pohon mimba tampak memiliki kemampuan untuk menghambat efek patologis dari banyak virus corona. Pada tikus yang terinfeksi SARS-CoV-2, ekstrak kulit pohon mimba berperan dalam menghambat inflamasi di paru-paru tikus. Temuan ini dinilai penting, mengingat Covid-19 dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada paru-paru.

Sebagai tambahan, ekstrak kulit pohon mimba juga dapat menekan virus memperbanyak diri. Ekstrak kulit pohon mimba pun terlihat mampu menghentikan virus untuk menyebabkan inflamasi di otak, saraf tulang belakang, dan hati.

Temuan terbaru ini memang tampak menjanjikan. Akan tetapi, tim peneliti menilai perlu dilakukan lebih banyak penelitian sebelum ekstrak kulit pohon mimba bisa digunakan dalam upaya pengobatan atau pencegahan Covid-19.

Penelitian lebih jauh diperlukan untuk mengidentifikasi komponen spesifik dalam ekstrak kulit pohon mimba yang memiliki sifat antivirus. Setelah menemukan komponen spesifik itu, langkah selanjutnya adalah menentukan formulasi dosis untuk obat antivirus yang bisa mengobati infeksi virus corona.

"Ini merupakan studi preklinis, berbasis tes laboratorium pada sel dan hewan, jadi dibutuhkan penelitian lebih jauh untuk menentukan efektivitas dan keamanannya pada manusia secara meyakinkan," jelas Dr Amichai Perlman mengomentari temuan dalam studi terbaru ini.

Hal senada juga diungkapkan oleh Prof Winston morgan dari Medicines Research Group di University of East London. Meski temuan terbaru ini menarik dan menjanjikan, percobaan pada hewan memiliki keterbatasan. Selain itu, studi terbaru ini juga lebih berfokus pada efikasi dibandingkan keamanan ekstrak kulit pohon mimba.

"Sebagai contoh, kita tidak tahu apakah dampak dari ekstrak ini pada tikus setelah enam hari," ungkap Prof Winston.

Menyoroti keamanan dari penggunaan ekstrak juga menjadi hal penting. Alasannya, penggunaan ekstrak bisa memicu masalah jangka panjang.

Prof Winston mengatakan masalah dari semua obat antivirus adalah konsentrasi plasmanya yang harus dijaga dalam kadar tinggi dalam periode yang panjang agar terbentuk proteksi. Hal ini berbeda dengan vaksin yang hanya membutuhkan sedikit dosis untuk bisa membentuk perlindungan.

"Pemberian obat (antivirus) jangka panjang kemungkinan akan menyebabkan masalah toksisitas jangka pendek dan panjang tentunya," jelas Prof Winston.

Prof Winston tak menampik bahwa temuan dalam studi terbaru ini sangat menjanjikan. Akan tetapi, Prof Winston mengingatkan agar temuan dalam studi terbaru ini harus dilihat sebagai langkah awal, alih-alih sebuah solusi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile