Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

 

5 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Soal Kontroversi Pendeta Saifuddin, PGI: Sikap Pribadi, Bukan Komunitas Kristen

Kamis 17 Mar 2022 22:31 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus raharjo

Pendeta Saifuddin Ibrahim meminta 300 ayat Alquran dihapus.

Pendeta Saifuddin Ibrahim meminta 300 ayat Alquran dihapus.

Foto: Tangkapan layar
PGI menegaskan, Kekristenan tidak mengajarkan jalan kebencian atau membalas dendam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH PGI) angkat bicara mengenai pernyataan kontroversial Pendeta Saifuddin Ibrahim yang meminta agar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menghapus atau mencabut 300 ayat Alquran.

 

“Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan yang ditujukan ke PGI terkait pernyataan yang meminta agar Menag mencabut 300 ayat dalam Alquran, MPH-PGI merasa perlu memberikan beberapa penjelasan,” ujar Kepala Humas PGI, Jeirry Sumampow dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (17/3/2022).

Baca Juga

Jeirry menyampaikan pernyataan pendeta tersebut bersifat pribadi dan tidak ada hubungannya dengan PGI dan gereja-gereja pada umumnya di Indonesia. Karena itu, PGI meminta kepada masyarakat Indonesia agar tidak menganggap pernyataan tersebut sebagai sikap komunitas Kristen.  

“PGI memohon agar masyarakat tidak terjebak untuk menggeneralisasi sikap dan pandangan pribadi sebagai sikap komunitas Kristen. Kekristenan tidak mengajarkan jalan kebencian ataupun sikap membalas dendam,” ucap dia.

Menurut dia, PGI berharap agar semua pihak berhati-hati dan bijak dalam menyikapi pernyataan provokatif yang bisa saja dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk kepentingan merusak kerukunan antarumat beragama dan masyarakat.

Selain itu, PGI juga meminta agar polemik ini tidak lagi dilanjutkan dan disebarluaskan melalui berbagai media sebab tidak membawa manfaat positif. “PGI meminta semua pihak untuk menghentikan ujaran dan tindakan yang saling melecehkan ajaran agama dan kepercayaan lain, serta memprovokasi kebencian antargolongan,” kata Jeirry.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile