Thursday, 3 Rabiul Awwal 1444 / 29 September 2022

Thursday, 3 Rabiul Awwal 1444 / 29 September 2022

3 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Fakta Menarik Garis Karman, Batas Antara Bumi dan Luar Angkasa

Senin 02 May 2022 11:38 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani / Red: Dwi Murdaningsih

Luar angkasa (ilustrasi)

Luar angkasa (ilustrasi)

Foto: Wikimedia
Semakin jauh dari Bumi, atmosfer menjadi kurang padat

REPUBLIKA.CO.ID, ARIZONA -- Ketika pendaki gunung mendaki Gunung Everest, mereka secara rutin membawa tabung oksigen. Tabung oksigen membantu mereka bernapas dengan bebas di ketinggian.

Hal ini diperlukan karena semakin dekat Anda ke tepi atmosfer bumi, semakin sedikit oksigen yang tersedia dibandingkan dengan jumlah yang banyak ditemukan di permukaan laut. Tapi dimanakah batas atmoster Bumi?

Baca Juga

Variabel atmosfer Bumi terdiri dari beberapa lapisan. Di setiap lapisan memiliki karakter perubahan suhu, komposisi kimia, kepadatan, dan pergerakan gas di dalamnya.

Setiap lapisan atmosfer berperan dalam memastikan planet kita dapat menampung semua jenis kehidupan, melakukan segalanya mulai dari memblokir radiasi kosmik penyebab kanker hingga menciptakan tekanan yang diperlukan untuk menghasilkan air.

“Ketika Anda semakin jauh dari Bumi, atmosfer menjadi kurang padat,” Katrina Bossert, fisikawan luar angkasa di Arizona State University, mengatakan kepada LiveScience melalui email.

“Komposisinya juga berubah, dan atom serta molekul yang lebih ringan mulai mendominasi, sementara molekul berat tetap lebih dekat ke permukaan Bumi.”

Saat Anda bergerak ke atas di atmosfer, tekanan, atau berat atmosfer di atas Anda, melemah dengan cepat. Pesawat komersial memiliki kabin bertekanan. Perubahan ketinggian yang cepat dapat mempengaruhi saluran eustachius yang tipis yang menghubungkan telinga dengan hidung dan tenggorokan.

“Inilah sebabnya mengapa telinga Anda mungkin pecah saat lepas landas di pesawat terbang,” kata Matthew Igel, asisten profesor ilmu atmosfer di University of California, Davis.

Akhirnya, udara menjadi terlalu tipis untuk pesawat konvensional untuk terbang sama sekali, dengan pesawat seperti itu tidak mampu menghasilkan daya angkat yang cukup. Ini adalah area yang telah ditetapkan oleh para ilmuwan sebagai tanda berakhirnya atmosfer kita, dan awal dari ruang angkasa.

Titik ini dikenal sebagai garis Kármán, yang ambil dari fisikawan Amerika-Hungaria bernama Theodore von Kármán, pada 1957. Menurut EarthSky, dia menjadi orang pertama yang mencoba mendefinisikan batas antara Bumi dan luar angkasa.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile