Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

29 Zulqaidah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Studi Temukan Cara Sel Kanker Menyebar ke Organ Tubuh Lain tanpa Terdeteksi

Senin 16 May 2022 12:06 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah

Sel kanker yang menyebar ke organ tubuh lain bisa menyebabkan metastatik fatal.

Sel kanker yang menyebar ke organ tubuh lain bisa menyebabkan metastatik fatal.

Foto: www.maxpixel.com
Sel kanker yang menyebar ke organ tubuh lain bisa menyebabkan metastatik fatal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi baru telah menemukan bagaimana kanker payudara stadium awal menyebar ke organ lain tanpa terdeteksi, yang dapat menyebabkan kanker metastatik fatal pada beberapa wanita beberapa tahun kemudian. Studi itu dipimpin Maria Soledad Sosa, seorang profesor di Institut Kanker Tisch Mount Sinai di New Kota York.

Sosa mengatakan bahkan sebelum tumor kanker payudara terdeteksi, sel-sel yang belum ganas dapat menyebar ke organ lain di mana mereka tertidur dan tidak bereplikasi. Gen NR2F1 biasanya mencegah sel-sel pra-ganas menyebar ke bagian lain dari tubuh.

Baca Juga

Sosa dan tim ilmuwan menemukan bahwa gen kanker, HER2, menekan gen NR2F1, memungkinkan sel prakanker untuk pindah ke organ tubuh lain di mana mereka bisa menjadi kanker.

“Bukti menunjukkan bahwa bahkan sebelum tumor primer terdeteksi, Anda dapat memiliki sel yang menyebar juga ke organ sekunder dan pada akhirnya dapat membentuk metastasis. Paru-paru, tulang dan otak adalah tempat umum bagi kanker payudara untuk bermetastasis atau menyebar,” kata Sosa seperti dilansir dari CNBC, Senin (16/5/2022).

Penelitian tim diterbitkan di jurnal Cancer Research peer-review. Studi laboratorium dilakukan dengan menggunakan sampel dari bentuk awal kanker payudara yang dikenal sebagai ductal carcinoma in situ atau DCIS, serta lesi kanker dari tikus.

Prof Sosa mengatakan, memahami mekanisme yang memungkinkan sel-sel pra-ganas menyebar ke seluruh tubuh suatu hari nanti dapat membantu menentukan wanita mana yang berisiko lebih tinggi untuk kambuhnya kanker payudara. Jika seorang pasien menunjukkan tingkat NR2F1 yang rendah, itu bisa menjadi tanda bahwa sel-sel kanker yang tidak aktif menyebar di dalam tubuh di mana mereka dapat diaktifkan kembali nanti dan menyebabkan penyakit.

Temuan penelitian bisa berpengaruh pada bagaimana wanita yang didiagnosa dengan DCIS di treatment. DCIS adalah pertumbuhan sel abnormal pada lapisan saluran ASI yang belum berkembang menjadi tumor ganas. DCIS secara tradisional dianggap non-invasif, artinya sel-sel abnormal belum menyebar. Namun, penelitian oleh tim Sosa dan lainnya menantang gagasan itu.

Menurut American Cancer Society, lebih dari 51 ribu wanita di AS akan didiagnosis dengan DCIS tahun ini. Banyak wanita yang didiagnosis dengan DCIS menjalani operasi atau radiasi atau keduanya. Namun, wanita yang didiagnosis dengan DCIS yang menjalani perawatan ini masih memiliki sekitar 3 persen kemungkinan meninggal akibat kanker payudara 20 tahun setelah diagnosis mereka.

Lebih dari 150 wanita dalam penelitian yang payudaranya diangkat masih meninggal karena kanker, yang berarti penyakit kemungkinan telah menyebar pada saat terdeteksi. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa klasifikasi DCIS sebagai non-invasif harus dipertimbangkan kembali, memperingatkan bahwa beberapa kasus karsinoma memiliki potensi yang melekat untuk penyebaran jauh ke bagian lain dari tubuh.

“Meskipun mereka melakukan operasi DCIS atau kadang-kadang diobati dengan radioterapi, angka kematiannya tidak berubah. Tapi masalahnya adalah sel-sel abnormal menyebar dari karsinoma,” kata Sosa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile