Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

13 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Wapres Ingatkan Masyarakat Waspada Hoaks Jelang Pilpres

Jumat 03 Jun 2022 11:40 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ratna Puspita

Wakil Presiden Maruf Amin

Wakil Presiden Maruf Amin

Foto: BPMI/Setwapres
Disinformasi dan hoaks biasanya akan digunakan untuk menimbulkan kekacauan.

REPUBLIKA.CO.ID, MOJOKERTO -- Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dengan beredarnya disinformasi atau hoaks sebagai propaganda jelang Pemilihan Presiden 2024.  Menurutnya, disinformasi dan hoaks biasanya akan digunakan untuk menimbulkan kekacauan.

"Hati-hati ini sudah mau Pilpres, ini sudah mulai terjadi pelan-pelan. Dan berbagai antisipasi, kita memang disuruh melakukan antisipasi terhadap kemungkinan berbagai bahaya," ujar Wapres di acara Sarasehan bersama Pimpinan Pusat dan Wilayah Perguruan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) dan alim ulama di Institut KH Abdul Chalim, Pacet, Mojokerto, Jumat (3/6/2022).

Baca Juga

Wapres mengatakan, kemajuan teknologi informasi memang memberikan dampak positif. Namun, di sisi lain, kemajuan teknologi informasi menimbulkan sisi negatif, yakni muncul disinformasi, informasi yang tidak benar, hoaks hingga fitnah.

Karena itu, wapres meminta masyarakat dapat  mengantisipasi bahaya-bahaya yang ditimbulkan dalam upaya penguasaan teknologi digital. "Sebab sekarang ini, banyak akun-akun palsu yang menggunakan platform-platform seperti Google, Facebook semua itu muncul, itu seperti sudah terjadi di Amerika itu disebutnya propaganda," ujarnya.

Menurutnya, propaganda ini pernah digunakan untuk memenangkan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat beberapa tahun lalu, yakni dengan cara menyebarkan hoaks. Wapres pun berharap hal ini tidak terjadi di Indonesia dan bisa menyebabkan perpecahan bangsa.

"Yang harus kita cegah jangan sampai nanti digunakan untuk membuat, mengubah, mempengaruhi pikiran masyarakat dalam rangka penyesatan, sebab sekarang sudah masuk ke mana mana, masuk ke dapur, masuk ke kamar-kamar anak kita, membuat keraguan dan membuat juga perpecahan," kata Kiai Ma’ruf. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile