REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR--Cuaca di Selat Bali tengah tak menentu. Arus yang kencang di selat yang menghubungkan Bali dengan Jawa itu, Kamis (26/8) mengandaskan KMP Dharma Rucitra di Teluk Goa, di bagian utara selat itu. Namun para penumpang sebanyak 138 orang, dievakuasi oleh Tim SAR dibantu TNI Angkatan Laut dengan perahu karet.
"Kami terkatung-katung di tengah laut sekitar 14 jam," kata salah seorang penumpang, Ketut Jumitra.
Upaya evakuasi penumpang KMP Dharma Rucitra pada Jumat pagi pukul 08.00 WIB berlangsung cukup dramatis karena mereka harus pindah dari kapal feri yang kandas itu dengan kapal karet lebih dulu, baru dipindahkan ke KMP Pottre Koneng. Menurut Jumitra, sebelum kandas para penumpang merasakan kapal menabrak benda keras di dasar laut yang menimbulkan goncangan cukup keras sehingga membuat para penumpang ketakutan. "Tidak lama kemudian kapal tidak bisa melanjutkan perjalanannya."
Para penumpang yang panik, sempat menanyakan penyebab guncangan itu kepada para ABK, namun tidak ada mau memberi penjelasan. Para penumpang baru tahu kalau kapal kandas, pagi harinya, saat akan dievakuasi. Sebanyak 138 penumpang KMP Dharma Rucitra yang berhasil dipindahkan ke KMP Pottre Koneng langsung dibawa ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.
Walau para penumpang berhasil dievakuasi, namun mobil dan kendaraan mereka belum bisa dikeluarkan, lantaran kapal yang kandas belum bisa ditarik. Petugas evakuasi menyatakan belum berani menarik kapal itu, karena kedalaman air di lokasi kapal yang kandas belum memungkinkan, sehingga bila dipaksakan akan mengakibatkan kebocoran pada kapal. Kapal itu baru bisa divakuasi siang harinya.
"Upaya evakuasi tidak bisa dipaksakan jika air masih surut karena akan menyebabkan kebocoran. Makanya, kami menunggu hingga air naik," ujar Pemimpin Cabang PT Indonesia Ferry (Persero) ASDP Ketapang Banyuwangi, Charda Damanik.