REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sudjito menilai Ical gagal dalam memimpin Golkar. Hal ini terkait masih terpecahnya Golkar jadi dua kepengurusan hingga saat ini.
Arie menilai ada banyak faktor yang membuat Ical belum bisa menciptakan soliditas di internal partai. Hal ini kata dia terkait ketokohan dirinya yang secara leadership belum kuat. Ditambah lagi kata dia juga terkait pendanaan partai.
“Jadi dua hal inilah yang menjadi sebab Ical gagal menyatukan Golkar,” kata dia, Ahad (8/3).
Dia menjelaskan kepempinan yang dibangun Ical adalah berbasis pendanaan. Jadi konsekwensinya yakni jika pendanaan politik nya tidak lancar, maka dukungannya pun juga menjadi tidak lancar. Sedangkan, kata dia, saat ini usaha bisnis Ical sudah tak selancar dahulu. Ditambah lagi ongkos politik yang semakin mahal dari tahun ke tahun.
Sebelumnya Sidang MPG berakhir dengan perbedaan pendapat di antara anggota Majelis Hakim. Alhasil, Majelis hakim di lembaga pengadil internal tersebut tak memiliki keputusan pasti memutuskan perkara dualisme kepengurusan Golkar.
Ketua Hakim MPG, Muladi dan Natabaya, dalam putusan menyatakan, tidak menerima kehadiran dua musyawarah nasional (Munas), baik Munas Bali ataupun Munas Ancol. Sedangkan dua anggota Majelis lainnya, Andi Mattalata dan Djasri Marin sepakat menyatakan menerima permohonan Golkar Munas Ancol atas termohon Golkar Munas Bali. Keduanya setuju, mengakui kepengurusan Golkar Munas Ancol adalah kepengurusan yang sah.