REPUBLIKA.CO.ID,KALIFORNIA -- Kelompok hak-hak sipil Muslim AS memperingatkan lebih dari 55 persen siswa Muslim Amerika menghadapi intimidasi dan diskriminasi. Mereka mengalaminya dari para guru, buku dan rekan-rekan di sekolah-sekolah.
"Banyak siswa berjuang dengan kinerja yang buruk dan menahan perasaan mereka," kata Fatima Dadabhoy, seorang pengacara hak-hak sipil senior di Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), seperti dilansir dari On Islam, Sabtu (31/10).
Penelitian berjudul 'Disalahartikan: Dampak Bullying Sekolah dan Diskriminasi Mahasiswa Muslim di California' itu dirilis pada Jumat (30/10) oleh CAIR.
Itu merupakan hasil survei yang dilakukan pada 621 siswa, yang 55 persen dari mereka mengaku merasakan bullying agama. CAIR menerangkan bullying tersebut sering mempengaruhi kemampuan siswa untuk belajar dan kenyamanan mereka di sekolah.
Banyak laporan mengatakan persepsi negatif dan diskriminasi itu banyak dihadapi komunitas Muslim sejak tragedi 9/11.
Laporan itu menjelaskan para siswa sering dituduh dan dipanggil sebagai seorang teroris, termasuk tentang jilbab yang dikenakan siswa Muslim perempuan, serta para guru yang tidak mengakui mereka sebagai orang Amerika.
"Kami mendapati para guru yang menampilkan film-film kebencian dan penghinaan dan terjadi di seluruh negeri," ujar Brice Hamack, pengacara hak-hak sipil CAIR.
Penelitian CAIR dilakukan kepada para siswa pada usia 11 sampai 18 tahun, yang hampir 20 persen dari siswa Santa Clara Country.
CAIR memberikan sejumlah rekomendasi untuk melawan diskriminasi, yang ditunjukkan kepada Kongres AS, penerbit buku, guru dan orang tua untuk membantu siswa Muslim merasa nyaman dan bisa belajar di lingkungan yang aman.
"Jika siswa tidak merasa dihormati atau menjadi bagian dari lingkungan, mereka menjadi terpinggirkan dan tidak berdaya," kata Fatima Dadabhoy.