REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang pengamat mengatakan Muslim di Amerika Serikat (AS) tidak boleh reaksioner atas pernyataan calon Presiden AS Donald Trump atas seruan pelarangan warga Muslim masuk ke negara itu.
"Tidak boleh reaksioner tunjukkan respons-respons dari warga Muslim di sana bahwa Islam tidak seperti yang digambarkan oleh Donald Trump," kata pengamat polirik Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Ali Munhanif saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (18/12).
Ia juga berharap warga Muslim di AS harus tetap meresponsnya sebagai bagian yang wajar dari sebuah perdebatan politik dalam kampanye pencalonan presiden AS.
"Warga Muslim di AS juga harus mentransfer diri mereka menjadi sebuah kelompok masyarakat yang memang terbuka dan juga mempunyai pandangan yang menghormati antarsesama," ucap Ali.
Calon Presiden AS dari Partai Republik Donald Trump menyerukan penutupan total dan menyeluruh masuknya warga Muslim ke AS. Hal ini adalah pernyataan paling provokatifnya dalam kampanye pencalonannya sebagai Presiden AS.
Seperti dikutip dari Reuters, pernyataan Trump itu sendiri disampaikan setelah penembakan massal di California Selatan dan mengundang kritik dari mantan Wakil Presiden AS yang berasal dari Republik Dick Cheney dan sesama pesaingnya dari Partai Republik Jeb Bush. Jeb Bush malah menyebut Trump tidak waras.
Penembakan massal di San Bernardino, California dilakukan oleh suami istri Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik. Farook dilahirkan di AS, sedangkan Tashfeen lahir di Pakistan dan datang ke AS dari Arab Saudi.