Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

 

2 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Pelaku Usaha Puas Soal Aturan Impor Garam Industri

Rabu 20 Jan 2016 20:57 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Pekerja memanen garam di tambak dengan sistem Tekhnologi Ulir Filter (TUF) dan pemasangan Geomembran (LDPE) di Desa Kaliwlingi, Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (31/10).

Pekerja memanen garam di tambak dengan sistem Tekhnologi Ulir Filter (TUF) dan pemasangan Geomembran (LDPE) di Desa Kaliwlingi, Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (31/10).

Foto: Antara/Oky Lukmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementrian perdagangan pemerintah mencabut Permendag 58 Tahun 2012 dan menggantinya dengan Permendag 125 Tahun 2015 tentang ketentuan impor garam. Oleh pelaku industri, permen 125 ini dianggap sebagai jaminan kepastian ketersediaan bahan baku bagi industri makanan dan minuman.

 

"Permendag itu memberi kepastian bagi industri. Yang penting bagi industri adalah kepastian," kata Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman saat dihubungi, Rabu.

Perubahan utama dalam permendag tersebut adalah dicabutnya rekomendasi impor garam yang sebelumnya menjadi kewenangan Kementerian Perindustrian. Menurut Adhi, kebijakan tersebut merupakan penyederhanaan proses dalam rangka meningkatkan daya saing industri.

Bagi Adhi, yang terpenting industri harus tanggung jawab dan tidak menjual atau memindahtangankan garam untuk bahan baku yang diimpor tersebut.

"Audit pascaimpor menjadi penting dalam hal ini," ujar Adhi.

Di sisi lain, keluarnya peraturan tersebut merupakan tantangan bagi penambak garam dalam negeri untuk bisa meningkatkan produksi dan mutu garam produksinya, agar bisa digunakan bahan baku bagi industri.

Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian Industri Kemenperin Haris Munandar mengatakan, pembinaan untuk petani garam dalam negeri dilakukan simultan dengan keluarnya permendag tersebut. Dengan kualitas mumpuni, perlahan-lahan garam produksi alam negeri juga dapat diserap oleh industri, di mana saat ini baru dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi.

"Memang kami inginkan garam rakyat bisa dipakai untuk industri. Dengan teknologi yang ada, NaCl di atas 97 bisa dicapai," ujar Haris.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile