REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Denny Wahyu Haryanto mengatakan, setidaknya ada tiga syarat jika Ibu Kota akan masuk ke dalam status siaga darurat banjir.
Ia mengatakan, sampai saat ini Jakarta masih dalam kondisi aman dari potensi banjir. Kata dia, semua pintu air DKI masih berstatus siaga empat dan curah hujan pun masih dalam kondisi aman.
Namun, ia mengaku sudah menyiapkan skema jika banjir benar-benar terjadi. Berdasarkan skema itu, ada beberapa tolok ukur untuk menyebut Ibu Kota masuk status siaga darurat banjir.
“Kalau siaga darurat itu, minimal ada beberapa dari pintu air Jakarta siaga dua secara bersamaan, curah hujan di atas 120-400 milimeter per sepuluh harian, dan sudah ada rendaman di 134 RT di 34 kelurahan. Nah, itu baru ada kemungkinan potensi rendaman besar, itu baru akan muncul siaga darurat,” katanya kepada Republika.co.id, Jumat (12/2).
Jika banjir terjadi, ia mengatakan, sudah ada ada instruksi Gubernur Nomor 263 yang meminta semua SKPD teknis, wali kota, camat, dan lurah untuk bersiaga. Nantinya, mereka diharapkan bisa menyiapkan personel, peralatan, sumber daya, dan logistik pada tempat-tempat yang terdampak banjir.
Menurutnya, lurahlah yang bertugas paling besar sebagai kepala posko lapangan untuk mengetahui kebutuhan warganya dan stasus rendaman. Lurah pun tidak akan bekerja sendirian karena dibantu oleh petugas PPSU dan unit teknis lainnya.
“Lurah sudah kita bekali tentang pengetahuan manajemen bencana. Jadi, mereka harus melaporkan kalau sudah ada rendaman di wilayahnya dan tahu kebutuhan apa aja yang harus disiapkan, tempat pengungsiannya dan penanganannya,” ujarnya menjelaskan.