REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Politik LIPI, Siti Zuhroh menilai beredarnya video Viktor Laiskodat adalah konsekuensi dari era IT dan Medsos yang begitu cepat. Maka pembuktian benar atau tidaknya video itu tinggal dilihat data fisiknya apakah ada, dan diedit atau tidak.
"Transparansi dalam komunikasi semakin dimungkinkan, sehingga sangat sulit seseorang bisa berkelit kalau data-data fisik konkretnya sangat akurat," kata Siti Zuhroh kepada wartawan, Selasa (8/8).
Karena itu, menurutnya, video politisi Nasdem, Viktor Laiskodat ini kembali memberi pelajaran berharga bagi semua para politisi. Perbedaan politik dan penyampaian sikap kepada masyarakat seharusnya lebih bijak, tidak asal mengumbar bicara.
"Kasus beredarnya video pidato politik viktor menjadi peringatan berharga bagi para politisi atau elite politik dari manapun parpolnya, untuk tidak suka mengumbar pernyataan negatif atau menyampaikan ujaran kebencian," ujar pengamat yang akrab disapa Mbak Wik ini.
Dengan adanya peraturan tentang ujaran kebencian, menurutnya, siapa pun akan bisa digugat bila merugikan orang atau pihak lain. Walaupun pembicaraan itu tertutup. Namun, sayangnya, di era IT dan medsos saat ini, akses masyarakat ke informasi sangat cepat.
Maka, tidak heran, jangankan anggota dewan, ketua DPR RI, Setya Novanto saja bisa lengser dari jabatannya saat itu, karena pembicaraan tertutup soal kasus papa minta saham. Artinya, tegas Mbak Wik, hukum di Indonesia tidak boleh tumpul ke atas dan tidak boleh runcing ke bawah. Harus ada equality before the law.
"Siapa pun tidak imun/kebal hukum. Siapa pun yang melanggar hukum harus mendapat hukuman yang setimpal," ungkapnya.