Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

 

8 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Seusai Dukung Bahar Bin Smith Dipenjara, Ferdinand Kini Ikut Masuk Sel

Senin 10 Jan 2022 23:21 WIB

Rep: Antara/Erik PP/ Red: Erik Purnama Putra

Aktivitas media sosial Ferdinand Hutahaean menjadi tersangka kasus ujaran kebencian.

Aktivitas media sosial Ferdinand Hutahaean menjadi tersangka kasus ujaran kebencian.

Foto: Istimewa
Bareskrim Polri tetapkan Ferdinand terangka kasus ujaran kebencian mengandung SARA.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivis media sosial Ferdinand Hutahaean resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus ujaran kebencian yang dilakukan melalui akun Twitter @FerdinandHaean3. Seusai menjalani pemeriksaan 11 jam di Satuan Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri pada Senin (10/1) malam WIB, Ferdinand akhirnya dimasukkan ke dalam Rutan Mabes Polri Cabang Jakarta Pusat.

 

Sebelum diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka, Ferdinand beberapa kali mengomentari penetapan tersangka dan penahanan Bahar bin Smith oleh Polda Jawa Barat pada Senin (3/1) malam WIB. Menurut Ferdinand, penahanan yang dilakukan polisi terhadap Bahar merupakan tindakan tepat.

Baca Juga

"Pola pikirnya sempit! Penahanan itu bukan hanya soal kabur, tapi juga soal keadilan dan tidak mengulangi perbuatan yang sama. Bahar dalam beberapa kali ceramah selalu provokatif jadi wajar penyidik menahan," kata Ferdinand lewat akun Twitter, FerdinandHaean3.

Dia pun mengkritik pakar hukum Refly Harun yang mempertanyakan mengapa polisi bergerak cepat menahan Bahar. Menurut Ferdinand, langkah polisi menahan Bahar sudah tepat. "Saudara Refly tak usah membangun opini seolah Polri zalim. Dalam hal ini Polri sudah benar!" kata Ferdinand.

"Omong kosongmu makin tidak terkendali Ref. Buktinya kau belum dipenjara. Kalau mudah seperti yang kau sebut, tentu kau pun sudah dipenjara. Soal Bahar itu pidana murni, ujaran kebencian dan penyebaran hoaks yang memang tidak boleh dibiarkan. Masa kau seorang doktor hukum tidak paham soal ini?" kata Ferdinand yang mengomentari berita tentang Refly yang membahas penahanan Bahar.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan menjelaskan, penyidik Dittipidsiber Bareskrim Polri resmi menetapkan Ferdinand sebagai tersangka kasus ujaran kebencian mengandung suku, agama, ras, antargolongan (SARA) pada Senin malam. Dia menyebutkan, setelah penetapan tersangka penyidik melakukan penangkapan dan penahanan terhadap Ferdinand.

"Setelah gelar perkara Tim Penyidik Dittipidsiber Bareskrim Polri mendapatkan dua alat bukti sesuai Pasal 184 KUHAP sehingga menaikkan status saudara FH dari saksi sebagai tersangka," kata Ramadhan di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Sebelum ditetapkan tersangka, dia melanjutkan, penyidik telah memeriksa Ferdinand Hutahaean sebagai saksi. Pemeriksan berlangsung dari pukul 10.30 WIB sampai dengan 21.30 WIB. Selain saksi terlapor, penyidik juga telah memeriksa di antaranya 17 saksi dan 21 saksi ahli. "Setelah pemeriksaan Ferdinand sebagai saksi, penyidik melakukan gelar perkara," kata Ramadhan.

Dari gelar perkara tersebut, kata dia, diperoleh dua alat bukti yang cukup hingga penyidik menaikkan status Ferdinand dari saksi menjadi tersangka. Seusai penetapan tersangka, penyidik melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap Ferdinand. "Kemudian penyidik melakukan proses penangkapan dan penahanan," ujar Ramadhan.

Ferdinand ditahan selama 20 hari ke depan di Rutan Cabang Jakarta Pusat di Mabes Polri. Ada dua alasan penyidik melakukan penahanan, yakni alasan subjektif dan objektif. Ramadhan menjelaskan, alasan subjektif penyidik adalah dikhawatirkan tersangka melarikan diri dan mengulangi perbuatannya. "Alasan objektifnya, karena ancaman hukuman yang disangkakan kepada FH di atas lima tahun," ujar Ramadhan.

Adapun aturan yang disangkakan kepada Ferdinahd, yaitu Pasal 14 ayat (1) dan (2) Peraturan Hukum Pidana Nomor 1 Tahun 1946, Pasal 45 ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang ITE dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara. Nama Ferdinand menjadi perbincangan usai mengunggah kalimat kontroversi yang diduga sebagai penistaan agama melalui akun Twitter @FerdinandHaean3 pada 4 Januari 2022.

Dia membuat status 'Allahmu lemah, Allahku luar biasa'. Usai unggahan itu, tagar #TangkapFerdinand pun trending di media sosial Twitter. Banyak yang mengecam cicitan Ferdinand atas dugaan penistaan agama.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile