Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

14 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Tentang FIFA, Standar Motor Supra, dan Invasi Rusia ke Ukraina

Ahad 13 Mar 2022 09:04 WIB

Red: Joko Sadewo

Ilustrasi FIFA yang menerapkan standar ganda dalam kebijakannya. FIFA sudah lama bersumpah tak akan membiarkan olahraga ini terkontaminasi oleh segala sesuatu yang berkaitan dengan politik. Tapi faktanya Timnas Rusia dan Chelsea harus menjadi korban dari standar ganda FIFA.

Ilustrasi FIFA yang menerapkan standar ganda dalam kebijakannya. FIFA sudah lama bersumpah tak akan membiarkan olahraga ini terkontaminasi oleh segala sesuatu yang berkaitan dengan politik. Tapi faktanya Timnas Rusia dan Chelsea harus menjadi korban dari standar ganda FIFA.

Foto: AP
Standar ganda FIFA dalam persoalan sepak bola sangat memalukan.

Oleh : Gilang Akbar Prambadi, Jurnalis Republika.

REPUBLIKA.CO.ID, Sepekan terakhir ini, sulit bagi jemari ini untuk tidak memantau media sosial terkait invasi Rusia ke Ukraina. Tujuan saya pribadi, bukan mencari kabar mengenai update dari perang di Eropa timur itu, apalagi, sampai untuk menggali akar masalah musabab terjadinya invasi Rusia ke Ukraina. Bukan itu, karena faktanya, hanya mereka yang terikat batin dengan pecahan Uni Soviet itulah yang pasti lebih paham.

Ya, bagi saya yang tak punya ikatan emosional apapun dengan Rusia dan Ukraina, adu kekuatan militer di sana benar-benar membingungkan. Bingung karena, mengapa di era yang sudah (maaf) 'serba bacot' ini, masih ada pihak-pihak yang menggunakan senjata untuk menyampaikan isi kepala.

Tapi sekali lagi, saya tak mau masuk ke lorong itu, lorong yang isinya penuh dengan pro dan kontra. Bagi saya, baik Vladimir Putin maupun Volodymyr Zelenskyy sama-sama membela sesuatu yang harus kita hargai. Lebih elok jika kita menjadi pondasi untuk menengahi, dibandingkan ikut mengutuk satu atau dua pihak.

Kembali ke hal yang saya bahas di pembuka tulisan, yakni soal medsos dan invasi Rusia ke Ukraina. Dalam hal ini, yang ingin saya soroti adalah soal respons medsos pecinta sepak bola di Tanah Air yang ramai mengomentari invasi Rusia ke Ukraina.
Mengapa penggila bola Indonesia ikut nimbrung? Karena ada suatu ketidakadilan di sana.
 
Ketidakadilan itu adalah soal sikap para pelakon yang berkaitan dengan dunia lapangan hijau. Ini berkaitan dengan invasi Israel ke Palestina yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
 
 
Dunia sepak bola, dimotori oleh FIFA sudah lama bersumpah tak akan membiarkan olahraga ini terkontaminasi oleh segala sesuatu yang berkaitan dengan politik. Sikap tegas namun tak populer pun pernah beberapa kali diambil.
 
Contoh paling besar adalah kejadian di tahun 2009 silam. Saat itu Frederic Kanoute melakukan selebrasi dengan membuka setengah jersi yang dipakainya kala membela Sevilla melawan Deportivo La Coruna di ajang Copa del Rey. Kartu kuning melayang, FIFA tak menolerir dan menyebut aksi Kanoute tidak bisa dibenarkan alias haram diulangi. Alasannya, kaus dengan tulisan 'Palestina' yang Kanoute gunakan dianggap politis dan mencederai nilai sepak bola.
 
Demikian hal yang terjadi kepada Mesut Oezil kala masih berseragam Arsenal. Statusnya dibekukan oleh Arsenal pada Oktober 2020 silam. Diduga kuat, itu karena aksinya yang mendukung muslim Uighur di Cina.
 
Fakta-fakta inilah yang kemudian mengundang cibiran. Itu karena, justru saat ini aksi-aksi yang dilakukan di dunia sepak bola berlawanan dengan ikrar untuk tidak mencampuri urusan sepak bola dengan politik.
 
Paling parah adalah yang menimpa Chelsea. Sungguh, seumur hidup, untuk urusan lapangan saya tak pernah mendukung the Blues sekalipun. Chelsea, bagi saya, adalah pelopor tim instan yang tiba-tiba jago. Duitlah yang membuat Chelsea sejak tahun 2003 menjelma menjadi tim menakutkan. Baru setelah itu, klub-klub macam Manchester City mengekor. Sulit untuk saya menaruh kagum kepada klub-klub yang menjadikan kekuatan uang sebagai cara memoles tim kuat secara cepat. Mereka tak mengajarkan proses.
 
Namun, apa yang kini menimpa Chelsea benar-benar membuat saya bersedia, jika tentu saja diminta, untuk membela. Hanya karena pemiliknya adalah orang yang diduga bagian dari oligarki Rusia, Chelsea seakan dibuat lumpuh.
 
Seluruh aset Chelsea yang dianggap sebagai milik Roman Abramovich dibekukan. Bahkan, untuk membeli bahan bakar bus tim pun, Chelsea tak bisa. Itu terjadi ketika pasukan besutan Thomas Tuchel hendak berangkat ke markas Norwcih City, Jumat (11/3/2022). Kabar menyebut bus Chelsea tak bisa membeli bahan bakar karena kartu yang biasa mereka gunakan untuk menebus transaksi pembayaran turut dibekukan. Keterlaluan.
 
Kemana FIFA? Mengapa diam saja? Jelas-jelas pemerintah Inggris telah mengintervensi klub asal Kota London itu.
 
Sepak bola Indonesia saja pernah FIFA buat vakum karena dianggap ada turut campur pemerintah dalam pengelolaan olahraga rakyat ini di tahun 2015 silam. Benar-benar standar ganda.
 
Tak pelak, meme lucu dengan penampakan gambar standar ganda yang terpasang di sebuah motor pun berseliweran di jagad maya. Ketika ada unggahan mengenai hal yang dianggap tak konsisten mengenai perlakukan ke Rusia dan Israel, meme ini selalu muncul di kolom komentar.
 
Entah apa alasannya, tapi selalu standar motor Supra dari besutan pabrikan Honda lah yang muncul. Mungkin itu karena motor ini dikenal legendaris. Di tahun 2000-an, Supra adalah tunggangan paling keren bagi segala usia di masa itu. Sepengamatan saya, Supra mampu meneruskan kejayaan Grand Astrea yang lebih dulu digemari masyarakat Indonesia. Sehingga, dibandingkan menulis kata 'standar ganda' di setiap kolom komentar, maka mungkin mengunggah foto standar ganda dari motor fenomenal itu dianggap lebih mengena. Kocak.
 
Saya harap Rusia dan Ukraina berdamai agar tak ada lagi nyawa yang meregang sia-sia. Jika boleh memberi saran, selesaikan saja urusan ini di lapangan, lewat sepak bola. Di sinilah FIFA berkesempatan membuktikan marwahnya. FIFA bisa membuatkan agenda laga timnas Rusia melawan timnas Ukraina. Kalau perlu, dapuk Putin dan Zelenskyy sebagai pelatih masing-masing timnas. Terserah, digelar satu leg, dua leg, atau mau 142 leg sekalipun silakan. Pemenangnya berhak mendapatkan apa yang mereka mau. Terpenting, segera sudahi perang yang menimbulkan kesakitan ini.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile