Monday, 11 Jumadil Awwal 1444 / 05 December 2022

Monday, 11 Jumadil Awwal 1444 / 05 December 2022

11 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Afasia, Ketika Tiba-tiba Kemampuan Berbicara dan Kognitif Lenyap

Jumat 01 Apr 2022 11:37 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Bruce Willis. Bintang Hollywood Bruce Willis secara mengejutkan umumkan akhiri kariernya gara-gara afasia.

Bruce Willis. Bintang Hollywood Bruce Willis secara mengejutkan umumkan akhiri kariernya gara-gara afasia.

Foto: EPA
Afasia memiliki empat bentuk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bintang Hollywood Bruce Willis secara mengejutkan umumkan akhiri kariernya gara-gara afasia. Ini mengejutkan bagi para penggemarnya, karena belum lama ini bintang Hollywood ini masih mengerjakan sejumlah proyek film, yang sebagian akan tayang tahun ini juga.

Keluarganya mengumumkan, Bruce Willis yang berusia 67 tahun belum lama ini didiagnosis mengidap afasia, yang mempengaruhi kemampuan kognitifnya. Penyakitnya ini tidak memungkinkan dia menjalankan profesinya sebagai aktor.

Baca Juga

Jadi ia harus mengakhiri kariernya. Apa sebenarnya afasia itu? Dan mengapa bintang tenar sekelas Bruce Willis harus pensiun?

Afasia bisa menyerang siapa saja

Afasia atau kehilangan kemampuan berbahasa yang dipelajari dapat muncul setelah kerusakan bagian otak sebelah kiri. Penyebab afasia kebanyakan serangan stroke.

Namun, afiasia juga bisa terjadi akibat pendarahan otak, cedera craniocerebral akibat kecelakaan, tumor otak, atau proses radang pada otak. Dampaknya kemampuan komunikasi menggunakan bahasa terus menurun hingga lenyap sama sekali.

Kehilangan kemampuan berbicara juga berdampak pada semua kemampuan lainnya, termasuk memahami pembicaraan dan kemampuan membaca dan menulis. Namun, afasia hanyalah gangguan berbicara, bukan gangguan kemampuan berpikir. Artinya, proses berpikir atau kemampuan intelektual tetap tidak terganggu atau hanya mengalami gangguan minimal.

Bagi penderita atupun keluarganya, ini merupakan situasi yang penuh beban. Penderita tidak bisa lagi menyebutkan nama benda dalam kehidupan sehari-hari, walaupun dia tahu apa yang dimaksud, tapi dia tidak tahu lagi apa kata yang tepat.

 

sumber : DW
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile