REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Angka korban DBD di Jakarta Utara tiap tahunnya mengalami penurunan. Ini lantaran pihak Dinas Kesehatan sukses menggalakkan antisipasi dengan mendiagnosa setiap demam sebagai kasus Demam Berdarah Dangue (DBD).
Data Sudin Kesehatan Jakarta Utara mencatat angka kasus DBD menurun setiap tahunnya. Dari angka 5.000 kasus pada 2009, angkanya menurun hingga tersisa 2.000 kasus pada 2011. Bahkan Kepala Sie Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Jakarta Utara, Ati Sukmaningsih, mengatakan sejak tahun 2010 hingga kini tak tercatat korban meninggal akibat DBD.
Jakut mampu menurunkan angka DBD karena menggalakan beberapa penanganan masalah DBD. Salah satu langkah antisipasinya ialah diagnosa awal DBD. Deteksi demam memang tak selalu berujung DBD, namun beberapa penyakit seperti DBD dan typhus memiliki gejala yang sama.
"Antisipasi diagnosa DBD dulu. Terakhir ricek laporan, baru keluar DBD atau bukan DBD," tutur Ati. ''Gejala DBD juga sama persis dengan typhus. Sehingga untuk menanggulangi, setiap pasien yang memiliki gejala demam tinggi akan didiagnosa pertama sebagai DBD.''
Selain itu, diagnosa DBD membutuhkan waktu lama yakni empat hari. Gejala DBD baru dapat diketahui dari hasil laboratorium dan baru ketahuan empat hari. ''Sehingga, perlu adanya upaya hati-hati untuk setiap gejala demam. Oleh karena itu, diagnosa pertama DBD menjadi penting.''