Sabtu 01 Mar 2025 02:28 WIB

Ustadz Khalifah M Ali Bicara Green Ramadhan: Kurangi Limbah, Maksimalkan Ibadah

Ustadz Khalifah menekankan kesadaran akan limbah makanan saat Ramadhan.

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Ustadz Khalifah Muhammad Ali saat sesi wawancara bersama Republika, Rabu (26/2/2025).
Foto: Republika/Prayogi
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Ustadz Khalifah Muhammad Ali saat sesi wawancara bersama Republika, Rabu (26/2/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Isu lingkungan hidup kini menjadi perhatian global, tak terkecuali bagi generasi muda. Anak muda, dengan semangat dan kepeduliannya, dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian bumi.

Di Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, ajaran Islam turut memberikan panduan dalam menjaga lingkungan. Konsep Green Ramadhan menjadi salah satu wujud nyata dari kepedulian tersebut.

Baca Juga

Anak muda Muslim dinilai dapat menjadi agen perubahan dalam menjaga lingkungan. Mereka dapat memulai dari hal-hal kecil, seperti mengurangi penggunaan plastik, menghemat air dan listrik, serta memilih produk-produk ramah lingkungan. 

Dalam Islam, menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Allah SWT menciptakan alam semesta dengan keseimbangan yang sempurna, dan manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Konsep Green Ramadhan mengajak umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa dengan lebih ramah lingkungan. 

Ketua Yayasan Hutan Wakaf Bogor Khalifah Muhamad Ali menekankan pentingnya kesadaran akan limbah makanan saat berbuka puasa. Saat Ramadhan, sering kita lihat banyak sampah atau limbah makanan terbuang. Untuk itu, kata dia, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan yaitu "Mengapa banyak makanan terbuang?". Hal ini lantaran seseorang cenderung mengambil banyak makanan saat berbuka puasa, padahal itu melebihi kebutuhan kita.

"Ini menurut saya penting untuk kita perhatikan. Jangan sampai kita mengambil makanan terlalu banyak atau menyediakan makanan terlalu banyak untuk buka puasa di rumah, masjid, atau tempat lain," ujarnya kepada Republika.co.id pada Rabu (26/2/2025).

Ustadz Khalifah juga memberikan beberapa solusi praktis, baik bagi individu maupun pihak yang menyediakan makanan. "Harus ambil makanan secukupnya, karena kalau makanan sudah keambil atau kebeli, mau nggak mau harus kita makan. Pertama kita jadi kekenyangan, kemudian jadi ngantuk atau bahkan sakit, nggak bisa Sholat Tarawih. Kedua, limbah sampah terlalu banyak. Menurut saya yang penting sejak awal menahan agar tidak mengonsumsi berlebihan. Itu dari sisi kita sebagai pengonsumsi," kata dia menjelaskan.

Di lain sisi, Ustadz Khalifah mengimbau pihak-pihak pihak yang menyediakan makanan berbuka puasa, semisal pihak masjid atau ibu rumah tangga di rumah, harus mengukur porsi makanan. "Jangan terlalu berlebihan dalam menyediakan iftar atau hidangan berbuka. Harus mengukur dengan pas dan tidak berlebihan atau kekurangan sehingga makanan pas dan tidak terlalu banyak," ujar Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Syariah IPB University periode 2023-2028 ini.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement