Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

 

2 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Panglima: 10 WNI di Filipina Sehat

Sabtu 02 Apr 2016 10:25 WIB

Red: Angga Indrawan

Milisi Abu Sayyaf

Milisi Abu Sayyaf

Foto: krmagazine

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan kondisi 10 warga negara Indonesia yang disandera oleh kelompok milisi Abu Sayyaf dalam keadaan sehat. Ke-10 WNI masih berada di Filipina.

 

"Dari informasi pemerintah Filipina, sampai saat ini 10 WNI yang disandera masih dalam keadaan sehat," kata Panglima TNI Gatot Nurmantyo didampingi Kasad Jenderal TNI Mulyono dan Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi seusai melakukan panen raya padi di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu (2/4).

Dia menegaskan, TNI siap memberikan bantuan apabila ada permintaan dari Pemerintah Filipina dalam menangani penyanderaan oleh Abu Sayyaf. Namun, semua itu tergantung dari Filipina. Bahkan, pemerintah Filipina kata Nurmantyo telah berjanji kepada pemerintah Indonesia akan berusaha dengan berbagai cara untuk membebaskan 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf.

"Kita harus menghargai niat baik dari pemerintah Filipina dan kita harus yakin akan hal itu," ujar jenderal bintang empat itu.

Sejauh ini, kata Nurmantyo, TNI hanya bisa melakukan pemantauan dan menunggu koordinasi dengan Filipina terkait upaya yang akan diambil untuk membebaskan sandera. Karena bagaimanapun, TNI juga tidak bisa memaksa masuk tanpa seizin dari Filipina, mengingat itu bagian dari teritori negara Filipina. Menurut Nurmantyo, TNI baru boleh masuk jika sudah ada izin dari pemerintah Filipina. Hal ini sama ketika operasi pembebasan sandera Woyla di Thailand, ketika itu Indonesia diberikan izin oleh Thailand dalam penugasan pembebasan sandera.

"Kita harus yakin dengan Filipina. Karena kalau ada pembajakan di negara kita, negara lain ingin masuk tentu juga tidak boleh tanpa ada koordinasi. Karenanya, sebagai negara bertetangga kita harus menghormati dan saling percaya," katanya.

Namun demikian, jika nanti diminta TNI untuk melakukan upaya pembebasan, tentu TNI akan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan pemerintah Filipina. "Jadi saat ini TNI hanya bisa menunggu dan memonitor. Tetapi kalupun diminta kita akan selalu siap," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile