REPUBLIKA.CO.ID, CHRISTCHURCH -- Rekaman berdurasi 17 menit yang diunggah di media sosial oleh pelaku penembakan mengerikan di Masjid an-Noor di Deans Ave, Christchurch, Selandia Baru, mengejutkan dunia. Dalam waktu 17 menit itu puluhan jamaah shalat Jumat ditembaki secara biadab hingga meninggal dunia oleh pria bersenjata, Jumat (15/3) pukul 13.40 waktu setempat.
Merujuk media-media di Australia dan akun media sosialnya, pelaku yang merekam aksinya layaknya membuat vlog itu bernama Brenton Tarrant, seorang pria kulit putih kelahiran Australia berusia 28 tahun. Live streaming dimulai ketika pria bersenjata itu mulai pergi ke Masjid an-Noor di Deans Ave. Dia memarkir mobilnya di jalan masuk terdekat masjid.
Di dalam mobil pria itu, berisi serba-serbi senjata dan amunisi di kursi penumpang depan dan belakang, bersama dengan tabung bensin. Video di Facebook yang kemudian tersebar menunjukkan pria itu menembakkan lebih dari 100 tembakan pada orang-orang di dalam masjid. Senjatanya ditulisi dengan nama-nama pelaku penembakan terhadap jamaah masjid di masa lalu dan kota-kota tempat penembakan terjadi.
Awalnya, pria bersenjata masuk ke mobilnya mengenakan pelindung tubuh bergaya militer. Ia juga mengenakan helm, dan mengatakan, "mari kita mulai pesta ini".
Teror Masjid Christchurch. Brenton Tarrant (wajahnya disamarkan) tampil di sidang atas pembunuhan massal di dua masjid di Christchurch, Ahad (16/3).
Pria itu mengambil salah satu dari setidaknya enam senjata yang tersimpan di mobilnya. Lalu berjalan ke pintu depan dan mulai menembak tanpa pandang bulu kepada jamaah di dalam.
Otoritas Selandia baru mencatat, sedikitnya 300 jamaah sedang mengikuti shalat Jumat di masjid itu. Ia lalu masuk dan menembak dengan cepat siapa pun yang dilihatnya. Seorang lelaki yang terluka mencoba merangkak pergi, tetapi ditembak lagi setelah ia mengisi ulang senapannya.
Baca Juga: Penembak Masjid Selandia Baru Siarkan Langsung Aksinya
Ia lalu masuk ke ruang utama masjid dan menembaki jamaah yang telah meringkuk di pojok kedua sisi ruangan. Terkadang bahkan pria itu tidak melihat ke mana dia menembak dan melakukan isi ulang senjata berkali-kali. Ketika suara senjatanya berhenti, suara orang-orang yang terluka terdengar mengerang, sementara pelaku bersiap menembak lagi.
Beberapa kali dia berdiri di depan orang-orang yang terluka. Namun, dengan tenang, ia mengisi kembali senjatanya lalu menembak mereka beberapa kali untuk memastikan kematian para korban. Pria yang dicurigai sebagai penembak, mengunggah manifesto 87 halaman ke Twitter sebelum pembunuhan terjadi.