Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Debat Sengit Pakar Kesehatan Soal Vaksinasi Anak

Jumat 11 Jun 2021 17:43 WIB

Red: Indira Rezkisari

Seorang perempuan dan anak-anak menggunakan masker saat bermain. Vaksinasi Covid-19 mungkin akan segera dilakukan setelah sejumlah merek vaksin mendapatkan izin penggunaan. Pro kontra seputar vaksinasi Covid-19 ke anak namun masih terjadi.

Seorang perempuan dan anak-anak menggunakan masker saat bermain. Vaksinasi Covid-19 mungkin akan segera dilakukan setelah sejumlah merek vaksin mendapatkan izin penggunaan. Pro kontra seputar vaksinasi Covid-19 ke anak namun masih terjadi.

Foto: JESSICA HELENA WUYSANG/ANTARA
Pakar nilai butuh penelitian lebih lanjut tentang vaksinasi Covid-19 bagi anak.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rizky Suryarandika, Fergi Nadira Bach, Idealisa Masyrafina

Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang akan mulai memberlakukan kebijakan vaksinasi Covid-19 bagi anak. Meski pemberian vaksin anak dianggap sebagai hal positif, namun di sisi lain sejumlah penasehat kesehatan di Negara Paman Sam justru melihatnya sebagai kebijakan yang terlalu dini.

Anak-anak dinilai berisiko rendah terkena virus. Sebagian besar berpendapat penting memvaksin anak terutama saat virus banyak muncul seperti di musim gugur dan musim dingin.

Anggota Komite Penasihat Vaksin dan Produk Biologi Terkait FDA (VRBPAC) tidak diminta untuk memberikan saran atau suara khusus. FDA akan memberi tahu perusahaan tentang jenis uji klinis dan data apa yang ingin dilihat untuk mempertimbangkan perluasan penggunaan vaksin resmi untuk anak-anak.

Vaksin Pfizer/BioNTech diizinkan untuk digunakan pada orang berusia 12 tahun. Vaksin Moderna diizinkan untuk orang berusia 18 tahun ke atas, meskipun perusahaan telah meminta FDA untuk mengizinkan penggunaannya pada anak-anak berusia 12 tahun. Vaksin Johnson & Johnson diizinkan di orang berusia 18 tahun ke atas.

Walau vaksin telah terbukti sangat aman dan efektif pada kelompok usia yang lebih tua, anggota VRBPAC menyatakan keprihatinan tentang laporan baru dari kondisi jantung inflamasi yang disebut miokarditis. Gangguan itu berpotensi terkait dengan vaksin.

Direktur penyakit menular pediatrik di Tufts University School of Medicine, Cody Meissner, mengatakan anak-anak berisiko rendah terkena penyakit parah akibat virus. Sehingga diperlukan lebih banyak penelitian tentang keamanan pada kelompok usia yang lebih muda.

"Sebelum kita mulai memvaksinasi jutaan remaja dan anak-anak, penting untuk mengetahui apa konsekuensinya," kata Meissner, dilansir dari CNN pada Jumat (11/6).

Meissner mencatat tingkat rawat inap Covid-19 yang rendah di antara anak-anak. Tetapi anggota komite lainnya sangat tidak setuju dengan pendapat Meissner.

"Saya pikir kita membutuhkan vaksin ini lebih cepat daripada nanti pada anak-anak," ujar profesor pediatri di Fakultas Kedokteran Universitas California San Diego, Mark Sawyer.

Direktur Kantor Penelitian Vaksin FDA, Dan Marion Gruber, mengungkapkan rasa frustrasinya. Ia mendengar kebutuhan vaksin segera pada anak-anak karena tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Khususnya pada musim gugur dan saat anak-anak kembali ke sekolah yang mayoritas berada di dalam ruangan.

"Jika kita menunggu terlalu lama dan melakukan uji klinis ini dengan sejumlah besar subjek pediatrik, kita mungkin tidak siap untuk memiliki alat ini saat kita membutuhkannya," ucap Gruber.

Ada "sangat sedikit" laporan miokarditis atau perikarditis pada anak berusia 12-15 tahun yang telah diberi vaksin virus corona. Data menunjukkan bahwa ada jumlah kasus radang jantung yang lebih tinggi dari perkiraan di kalangan anak yang baru saja menerima dosis kedua vaksin virus corona Pfizer/BioNTech dan Moderna. Tetapi kebanyakan di antara kelompok anak yang lebih dewasa.

Bukan hanya Pfizer yang disebut sudah bisa digunakan bagi kelompok usia anak. Regulator China pekan lalu pun sudah menyetujui penggunaan vaksin Sinovac untuk anak-anak berusia tiga tahun hingga 17 tahun. Namun, pemerintah China belum mengumumkan secara resmi jadwal anak-anak mulai mendapatkan suntikan dua dosis vaksin Covid-19.

Tujuan tentatif China memang untuk memvaksin 80 persen populasinya terhadap virus corona pada akhir tahun ini. Hal tersebut memungkinkan puluhan juta anak harus mulai bersiap disuntik vaksin Covid-19.

Sebagian besar anak-anak memang terhindar dari pandemi ini. Sebab virus lebih mudah terpapar pada orang dewasa dan umumnya anak-anak jika terkena virus menunjukkan gejala yang tidak terlalu parah.

Namun demikian, para ahli mengatakan, anak-anak masih dapat menularkan virus ke orang lain. Beberapa ahli juga mencatat bahwa jika negara-negara akan mencapai herd immunity melalui kampanye vaksin, menyuntik anak-anak harus menjadi bagian dari rencana.

"Vaksinasi anak-anak adalah langkah maju yang penting," ujar ahli virus di sekolah kedokteran University of Hong Kong, Jin Dong-yan.

Namun, imbauan dan komentar memang lebih mudah. Pada kenyataannya memvaksinasi seseorang terlebih anak-anak lebih sulit dilakukan karena berbagai alasan mulai dari keraguan vaksin hingga ketersediaan vaksin.

Bahkan di negara-negara dengan vaksin yang cukup, beberapa pemerintahnya mengalami masalah dalam meyakinkan orang dewasa bahwa suntikan itu aman dan perlu, meskipun penelitian menunjukkannya. Kekhawatiran seperti itu dapat diperkuat ketika berhadapan dengan masyarakat termuda.

Ada juga masalah persetujuan. Beberapa regulator di seluruh dunia telah mengevaluasi keamanan suntikan Covid-19 pada anak-anak, dengan sebagian besar suntikan hanya disetujui untuk orang dewasa saat ini. Namun persetujuan pun telah dimulai. Amerika Serikat, Kanada, Singapura, dan Hong Kong semuanya mengizinkan penggunaan vaksin Pfizer pada anak-anak berusia 12 tahun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA