Selasa 07 Jun 2022 16:28 WIB

Nasdem Akui Bahas Transformasi Kepemimpinan 2024 dengan Demokrat

Nasdem akan menyaring tiga nama kandidat capres-cawapres dalam rakernas..

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Agus raharjo
...
Foto: Istimewa
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertemu dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di Kantor DPP Partai Nasdem, Jakarta, Ahad (5/6) malam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya mengatakan pertemuan antara Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dengan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono merupakan bentuk silaturahim. Namun, ia mengakui keduanya juga membicarakan soal transformasi kepemimpinan di 2024.

"Tentu obrolannya silaturahim lah antara dua pimpinan parpol. Memang ada pembicaraan tentang 2024 soal transformasi kepemimpinan nasional," ujar Willy di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (7/6/2022).

Baca Juga

Ia menjelaskan, Partai Nasdem tentu akan berkoalisi dengan partai lain dalam Pilpres 2024. Namun ia menjelaskan, semua hal terkait dengan siapa Partai Nasdem akan berkoalisi masihlah berupa penjajakan, termasuk dengan Partai Demokrat.

"Jadi jalur kuning belum melambai, undangan kawinan belum ada, ini masih pacaran aja belum. Masih taaruf satu sama lain, masih membangun suasana kebatinan," ujar Willy.

Partai Nasdem, jelas Willy, juga belum memutuskan nama yang akan diusung sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden. Pihaknya akan terlebih dahulu menggelar rapat kerja nasional (Rakernas) pada 15-17 Juni mendatang, untuk menyaring tiga nama bakal capres.

"Dinamika masih sangat mungkin terjadi, karena magnitude epicentrum dalam proses penentuan koalisi itu adalah figur capres, itu yang menjadi sebuah titik tekan," ujar Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR itu.

Kendati demikian, Partai Nasdem memahami bahwa pengusungan capres juga ditentukan oleh pembicaraan partai dalam sebuah koalisi. Namun, partainya berusaha untuk menyodorkan nama yang memang memiliki komitmen untuk masa depan Indonesia.

"Kita tentukan dulu pengantennya siapa capresnya, baru disusun koalisi. Kemudian berdialog bermusyawarah dan mufakat, siapa kemudian siapa yang akan mendampingi capres," ujar Willy.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement