REPUBLIKA.CO.ID, GROGOL - Maraknya kasus pemerkosaan dan perampokan di angkot membuat banyak perempuan merasa takut naik angkot. Kasus pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Livia, mahasiswa Binus pada 16 Agustus lalu di angkot mikrolet M 24 jurusan Slipi-Srengseng baru saja terungkap. Setelah itu disusul dengan kasus pemerkosaan dan perampokan terhadap seorang karyawati berinisial RS di Jakarta Selatan, Kamis (1/9) malam. RS diperkosa di dalam angkot saat angkot tersebut berputar-putar di sepanjang Jl TB Simatupang.
Dwi Yuliani salah seorang penumpang angkot merasa semakin takut naik angkot. Namun dia terpaksa tetap naik angkot saat bersekolah. Sebab tidak ada pilihan kendaraan lain. "Sekarang saya kalau naik angkot memilih angkot yang banyak ibu-ibunya. Sebab kalau penumpangnya laki-laki semua saya rasanya ngeri,"katanya saat ditemui di Grogol, Kamis, (15/9).
Bahkan, Dwi saat ini sering meminta keluarganya untuk mengantar jemputnya kalau pergi ke sekolah. Namun kalau terpaksa tidak ada yang menjemput dia naik angkot. "Orang tua saya juga cemas dengan banyaknya pemerkosaan di angkot," katanya.
Hal senada juga diungkapkan Nurliha. Dia semakin takut naik angkot. Bahkan dia berharap angkot dipisah saja antara penumpang laki-laki dan perempuan. "Saya jadi merasa serem kalau naik angkot sendirian. Makanya sekarang saya berusaha pulang lebih awal, jangan sampai kemalaman," katanya. Ia berharap, kepolisian semakin meningkatkan keamanan.
Di tempat terpisah Kapolres Jakarta Barat Kombes Setija Junianta menghimbau agar perempuan memakai pakaian yang sopan saat berpergian. Jangan memakai celana yang terlalu pendek yang marak dipakai anak muda sekarang. Sebab terkadang orang tidak ada niat berbuat jahat. "Mmelihat ada kesempatan, tiba-tiba niat jahat itu muncul," katanya.