Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

8 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Imunitas Diprediksi Turun, Kemenkes Akselerasi 100 Juta Peserta Booster Mulai Awal 2023

Kamis 15 Sep 2022 08:14 WIB

Red: Ratna Puspita

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

Foto: ANTARA /Wahyu Putro A
Menurut menkes, Indonesia harus bersiap jangan sampai terjadi gelombang baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mempersiapkan strategi akselerasi cakupan vaksinasi Covid-19 dosis penguat atau booster hingga 100 juta peserta mulai awal 2023. Strategi ini menyusul prediksi penurunan imunitas penduduk di awal tahun depan.

"Dugaan saya, kita akan turun imunitasnya di awal tahun depan. Kita harus bersiap, jangan sampai kalau ada gelombang lagi kita kena," kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin usai menghadiri Opening Ceremony COMSTECH-OIC Fellowship Program dan Peresmian Laboratorium Jejaring OIC COE, di Gedung Sujudi Kantor Kemenkes RI, Jakarta, Kamis (15/9/2022).

Baca Juga

Budi mengatakan, Kemenkes sedang mempersiapkan strategi akselerasi vaksinasi Covid-19 untuk menggenjot vaksin booster yang hingga saat ini baru berkisar 60 persen dari total sasaran 236,66 juta jiwa. Menurut Budi strategi itu akan menyasar minimal 100 juta jiwa penduduk mengakses vaksin booster sebagai upaya mempersiapkan imunitas penduduk bila terjadi gelombang susulan.

"Kemenkes sedang buat program lagi, sekarang baru 60 jutaan (penerima vaksin booster), kami siapkan sampai 100 juta agar pandemi susulan kita tenang," ujarnya.

Menkes Budi mengatakan, Indonesia telah mempersiapkan produksi vaksin COVID-19 booster dalam negeri yang diproduksi PT Biotis (Vaksin Inavac) dan PT Bio Farma (Vaksin Indovac). "Itu sebabnya saat booster keluar, kita kejar di akhir tahun supaya bisa persiapkan masyarakat yang belum dibooster ketiga," ujarnya.

Budi menambahkan, situasi pandemi di Indonasia sekarang relatif terkendali. Situasi itu dibuktikan saat Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 banyak memicu gelombang baru di dunia, tapi di Indonesia tidak terjadi.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile