Senin 12 Sep 2011 20:44 WIB

Pengamat Soal Rusuh Ambon: Rekonsiliasi Warga Belum Tuntas di Ambon

Sejumlah mobil dibakar massa saat kericuhan yang terjadi di Kota Ambon, Minggu (11/9). Kericuhan antarwarga di Ambon diwarnai dengan saling lempar batu, memblokir jalan dan merusak/membakar kendaraan.
Foto: Antara
Sejumlah mobil dibakar massa saat kericuhan yang terjadi di Kota Ambon, Minggu (11/9). Kericuhan antarwarga di Ambon diwarnai dengan saling lempar batu, memblokir jalan dan merusak/membakar kendaraan.

REPUBLIKA.CO.ID,  YOGYAKARTA-- Konflik yang terjadi di Kota Ambon, Maluku, pada Minggu, menunjukkan proses rekonsiliasi belum selesai, kata pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Samsu Rizal Panggabean.

"Rekonsiliasi dan dialog yang dibangun pemerintah dan antartokoh masyarakat di kalangan akar rumput belum selesai, karena beberapa tempat di Ambon komunikasi antarkampung tidak jalan," katanya di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, kondisi itu menyebabkan orang mudah sekali salah paham, sehingga kekerasan muncul di sana-sini. "Proses rekonsiliasi antarmasyarakat masih sangat dibutuhkan, karena antarwarga masih muncul saling ketidakpahaman dan saling curiga akibat dampak trauma konflik yang pernah terjadi sebelumnya," katanya.

Ia mengatakan masing-masing kampung yang dihuni komunitas Muslim dan Kristen sampai saat ini masih saling berjaga jarak agar tidak menimbulkan konflik. "Mereka masing-masing selalu ekstra hati-hati. Urusan kecelakaan saja, mudah sekali berubah menjadi masalah yang lebih serius," katanya.

Menurut dia, para tokoh agama dan tokoh masyarakat diharapkan dapat mengajak warga untuk lebih saling berbaur, membangun dialog, saling pengertian dan kesepahaman melalui berbagai kegiatan.

"Persoalan selama ini muncul akibat salah persepsi dan salah informasi antara warga, yang sering menjadi pemicu konflik," katanya.

Pengamat politik dari UGM Eric Hiarej mengatakan persoalan konflik di Ambon tidak lepas dari proses identifikasi yang diterima masing-masing kelompok agama terhadap isu konflik internasional. Menurut dia, mereka menganggap konflik yang terjadi di kampungnya sebagai bagian dari perwujudan konflik internasional.

"Beberapa kampung, sejak 30 tahun lalu, sejak saya kecil sampai sekarang belum berubah, mereka menganggap kampung Kristen sebagai 'Israel' dan kampung Islam sebagai 'Palestina'," katanya.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement