Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

13 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Rusia Bantah Laporan akan Serang Ukraina

Sabtu 04 Dec 2021 12:52 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Reiny Dwinanda

Pasukan terjun payung Angkatan Darat Rusia berbaris selama latihan untuk parade militer Hari Kemenangan di Moskow, Rusia, pada 7 Mei 2021. Pejabat Ukraina dan Barat khawatir bahwa penumpukan militer Rusia di dekat Ukraina dapat menandakan rencana Moskow untuk menyerang bekas Sovietnya tetangga.

Pasukan terjun payung Angkatan Darat Rusia berbaris selama latihan untuk parade militer Hari Kemenangan di Moskow, Rusia, pada 7 Mei 2021. Pejabat Ukraina dan Barat khawatir bahwa penumpukan militer Rusia di dekat Ukraina dapat menandakan rencana Moskow untuk menyerang bekas Sovietnya tetangga.

Foto: AP/Alexander Zemlianichenko,
AS menyebut Rusia akan serang Ukraina paling cepat pada awal 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pemerintah Rusia membantah laporan yang menyebutnya akan melancarkan serangan ke Ukraina. Moskow menuding Amerika Serikat (AS) tengah berusaha memperburuk situasi terkait Ukraina.

 

Baca Juga

 

"AS sedang melakukan operasi khusus untuk memperburuk situasi di sekitar Ukraina sambil mengalihkan tanggung jawab ke Rusia. Ini didasarkan pada tindakan provokatif di dekat perbatasan Rusia disertai dengan retorika yang menuduh," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam laporan yang diterbitkan surat kabar Kommersant pada Sabtu (4/12).

 

Sebelumnya, The Washington Post menerbitkan laporan yang menyebut Rusia akan melancarkan serangan ke Ukraina paling cepat awal tahun depan. Laporan itu disusun dengan mengutip keterangan beberapa pejabat AS dan dokumen intelijen. Menurut Washington Post, serangan Rusia bisa menjadi serangan multi-front dan setidaknya 175 ribu tentara bakal terlibat.

"Rencana itu melibatkan pergerakan ekstensi 100 kelompok taktis batalion dengan perkiraan 175 ribu personel, bersama dengan kendaraan lapis baja, artileri, dan peralatan," kata seorang pejabat AS yang dikutip Washington Post, Jumat (3/12).

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile